Senin, 14 Agustus 2017

JEJAK KOLONIALNYA TERANCAM PUNAH, AKANKAH LAMONGAN AKHIRNYA MENJADI KOTA TANPA PERNAH DIJAJAH?

Indonesia mengalami penjajahan oleh Belanda dalam kurun waktu yang sangat lama, yakni selama 350 tahun. Jejak Kolonial selama penjajahan-pun tersebar hampir di seluruh Nusantara, tak terkecuali di Kabupaten Lamongan. Jejak Kolonial di kota soto ini lebih banyak dijumpai di wilayah Kecamatan Babat dari pada di wilayah Kecamatan Kota Lamongan. Hal ini terjadi karena pada saat terjadi Agresi Militer Belanda II, ketika pusat pemerintahan di kota Lamongan berhasil diduduki oleh Belanda pada tanggal 18 Januari 1949 pukul 13.00 WIB, bangunan-bangunan penting pemerintah pada saat itu ikut dibumi hanguskan. Peristiwa jatuhnya kota Lamongan tersebut akhirnya dilaporkan oleh Komisi Tiga Negara yang ditanda tangani oleh Harrimans (wakil Belgia) dan Chritchley (wakil Australia) kepada PBB, dan dimuat dalam surat kabar terbitan Belanda 'Het Vrije Volk' yang memberitakan bahwa telah terjadi penghancuran kota yang hebat sekali. Itulah sebabnya mengapa jejak Kolonial di pusat kota Lamongan nyaris tidak ada.

Di kota tua Babat sampai detik ini masih berdiri bangunan-bangunan Kolonial, seperti gedung bekas markas CTN (Corps Tjadangan Nasional), Rumah Bekas Koramil Babat, gedung Garuda, Kantor Polsek Babat, Stasiun Babat, Jembatan Cincim, Rumah Panggung milik PT KAI, dan beberapa bangunan kolonial lainnya yang sudah menjadi hak milik swasta maupun pribadi. 

Bangunan Bekas Markas CTN

Bangunan Bekas Markas CTN Bagian Belakang

Bangunan-bangunan peninggalan Belanda tersebut mempunyai riwayat dan kesejarahannya masing-masing. Sayangnya, ada diantaranya yang terlantar dan hampir roboh akibat kurangnya perawatan, seperti yang dialami gedung bekas markas CTN (Corps Tjadangan Nasional). Nasib gedung yang dibangun megah ini sangatlah memprihatinkan, karena lama dibiarkan kosong dan tidak dirawat akibatnya beberapa bagian bangunan mengalami pelapukan dan roboh akibat termakan usia. Pohon Beringin beserta akarnya-pun ikut menghiasi dinding dan atap bangunan mewah yang menjadi saksi bisu perjalanan pendudukan Belanda di wilayah Lamongan.

Bangunan Bekas Markas CTN Bagian Teras Depan Ambruk

Pohon Beringin Tumbuh di Dinding Bangunan

Jika dilihat dari bangunannya yang megah dan luas, bangunan CTN ini patut diduga dulunya adalah bekas kantor Kawedanan, dan kemudian digunakan sebagai markas CTN pada tahun 1950-an. Kawedanan adalah wilayah administrasi kepemerintahan yang berada di bawah Kabupaten dan di atas Kecamatan yang berlaku pada masa Hindia Belanda. Pada tahun 1930-1935, Lamongan terbagi menjadi 5 wilayah Kawedanan, yakni: Lamongan; Ngimbang; Babat; Sukodadi; dan Paciran. Semenjak itu Kawedanan Tengahan, Gunung Kendeng, dan Lengkir sudah dihapus dari peta Kabupaten Lamongan. Kawedanan Babat meliputi Kecamatan atau Onderdistrik: Babat; Kedungpring; Majenang; Modo; dan Sugio. [Sumber: Pemerintah Kabupaten Daerah Tingkat II Lamongan, Lamongan Memayu Raharjaning Praja, hlm. 38-42]. Jadi, bangunan bekas markas CTN ini diduga dibangun karena adanya perpindahan Kawedanan dari Lengkir ke Babat, dan perlu untuk diketahui bahwa jarak antara Lengkir dengan Babat sendiri tidaklah jauh. Di tahun 1913, Lengkir masih berstatus sebagai Kawedanan dan Babat masih berstatus sebagai Kecamatan atau Onderdistrik dibawah Kawedanan Lengkir. 

Akibat Tidak Dirawat dan Termakan Usia

Bangunan Tampak Kumuh dan Menyeramkan

Dari informasi yang saya dapatkan, status kepemilikan gedung CTN ini ternyata masih dalam sengketa, antara klaim warga (perorangan/hak milik pribadi) dan posisi TNI (Koramil Babat) yang menempati sebagian bangunan, mengingat gedung ini dulunya pernah menjadi markas CTN. Terlepas dari status kepemilikannya yang masih sengketa, pemerintah daerah sebenarnya berhak untuk menetapkan status bangunan tersebut sebagai Cagar Budaya berdasarkan arti pentingnya bangunan tersebut dalam perjalanan sejarah Lamongan. Perlu untuk digaris bawahi bahwa status kepemilikan bangunan tidak akan menggugurkan status Cagar Budaya, begitu pula sebaliknya. Sebenarnya jika dirawat dengan baik, gedung ini mempunyai potensi besar untuk dijadikan lokasi wisata sejarah di Babat. Bangunan yang mempunyai halaman luas, baik halaman depan maupun belakang ini juga sangat cocok untuk digunakan kegiatan pentas seni. 

Bangunan yang dibangun Megah dan Mempunyai Halaman Luas

Meskipun ditelantarkan, Kemewahan Bangunan ini Masih Nampak

Nasib gedung CTN berbanding terbalik dengan bangunan yang ada di depannya, yakni kantor Polsek Babat. Bangunan peninggalan Kolonial ini bisa dibilang masih terawat dan terjaga dengan baik karena masih ditempati. Menurut rekam sejarahnya, gedung Kolonial yang sekarang difungsikan sebagai Mapolsek Babat ini dulunya adalah sebuah bangunan Rumah Sakit milik Marbrig (Mariniers Brigade atau Koninklijk Nederlandse Marine Korps). Gedung ini juga menjadi saksi bisu Agresi Militer Belanda I dan II. Setelah Agresi Militer Belanda berakhir, bangunan bekas rumah sakit ini difungsikan menjadi kantor Polisi dan asrama polisi pada sekitar tahun 1950-an. 

Bangunan Kolonial yang difungsikan Sebagai Kantor Polsek Babat Masih Terawat Dengan Baik

Lantai Tegel yang Tampak Mewah

Babat juga mempunyai bangunan Kolonial lainnya yang unik, seperti pada bangunan gudang yang ada di pasar Babat. Gedung bekas gudang beras atau sembako di zaman Kolonial ini, pada bagian ujung atas bangunannya terdapat logo Bintang Daud atau David Star yang mirip dengan Bendera Israel. Sebuah bintang bersudut enam yang menggabungkan dua segitiga sempurna, segitiga yang menghadap keatas disebut Purusa dan yang menghadap kebawah disebut Prakarti. Bangunan-bangunan peninggalan Belanda di Babat yang status kepemilikannya sudah menjadi hak milik swasta maupun pribadi masuk dalam kategori rawan punah, pasalnya mudah diperjualbelikan untuk kepentingan bisnis, sehingga memiliki potensi untuk dirobohkan dan dijadikan bangunan baru. 

Gedung Bekas Gudang Beras/Sembako

Logo Bintang Daud atau David Star di Bagian Ujung Atas Bangunan

Pemerintah Kabupaten Lamongan harus segera mengambil langkah konkret sebagai bentuk penyelamatan dan perlindungan. Pemerintah daerah melalui dinas terkait harus segera melakukan kajian serta pendataan dan selanjutnya ditindaklanjuti dengan penetapan Cagar Budaya oleh pemerintah daerah berupa SK Bupati. Status Cagar Budaya sangatlah penting karena bangunan-bangunan Kolonial tersebut akan mendapatkan payung hukum sehingga akan lebih terjamin kelestariannya. Penetapan Cagar Budaya juga harus disertai dengan pemberian bantuan biaya perawatan, perbaikan, serta dukungan tenaga ahli, agar pemilik bangunan tidak merasa keberatan dan terbebani, sehingga mereka tidak akan pernah mempunyai pikiran untuk menjualnya atau bahkan merobohkannya. Bangunan dan tanah memang bisa dinilai dan dibeli dengan uang, akan tetapi bukti sejarah tidak akan bisa dinilai dan tidak akan bisa dibeli dengan uang. 

Diskusi Membahas Nasib Bangunan Kolonial
Gedung Garuda


Kepunahan bangunan-bangunan Kolonial akan berdampak buruk bagi generasi muda penerus Bangsa. Jika di suatu daerah sudah kehilangan jejak Kolonialnya, bukan tidak mungkin kalau ada anggapan dari para pemudanya, bahwa daerahnya tidak pernah dijajah. Hal ini otomatis akan berdampak buruk pada rasa Nasionalisme dan Semangat 45 mereka. Disinilah pentingnya atau urgensinya dari keberadaan Bangunan Kolonial itu, karena Bangunan Kolonial merupakan lambang perlawanan Bangsa Indonesia terhadap para penjajah kedaulatan Negara Republik Indonesia.

Jembatan Cincim
Foto di Depan Kantor Polsek Babat

Sebagai informasi tambahan, Lamongan sebenarnya mempunyai tokoh pemuda yang patut untuk dibanggakan dan dijadikan panutan. Pemuda tersebut adalah Daindancho Latif Hendraningrat, pemuda asli Kedungpring - Lamongan ini adalah seorang tentara Peta dari Babat yang dipindah tugaskan ke Rengasdengklok. Ketika Proklamasi Kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945, pemuda Latif Hendraningrat, putera Lamongan inilah yang dipercaya sebagai petugas pengibar Bendera Pusaka Sang Saka Merah Putih. [Sumber: Achmad Chambali, Menelusuri Sejarah Kabupaten Lamongan. Penerbit Majelis Taklim Islamiyah Lamongan, 2006, hlm. 84-85].

Tulisan ini saya persembahkan untuk memperingati Proklamasi Kemerdekaan Indonesia ke-72. Merdeka!. 

Minggu, 06 Agustus 2017

CANDI SLUMPANG BUKTI JEJAK NADITIRA PRADESA DI BHUMI LAMONGAN


Candi Slumpang secara administratif terletak di Desa Siser, Kecamatan Laren, Kabupaten Lamongan, tepatnya berada di tepi sisi Utara Bengawan Solo. Posisinya tidak jauh dari tempat penyeberangan sungai (penambangan), jaraknya kurang lebih 600 meter dari lokasi penambangan yang menghubungkan antara Desa Mojoasem - Laren dengan Desa Siwuran (Pasiwuran) - Maduran. Bahkan, jika ditarik garis lurus, posisi candi Slumpang bisa dibilang hampir sejajar dengan lokasi penambangan. Candi yang hampir seluruh bagian tubuhnya tenggelam tergenang air ini, berdiri di tengah area persawahan yang subur dan luas. 

Penambangan (Penyeberangan Sungai) Bengawan Solo

Candi Slumpang dibangun di area rawan banjir akibat luapan air Bengawan Solo. Lumpur yang terbawa saat banjir pada akhirnya mengendap, dan endapan lumpur tersebut akan terus meninggi akibat banjir yang terus berulang hingga ratusan tahun lamanya. Inilah yang membuat candi Slumpang akhirnya terkubur di dalam tanah. Karena tergenang air, candi yang berbahan batu bata merah dan batu kapur ini hanya menampakkan 2 buah Yoni, satu Yoni berbahan batu andesit dan yang satunya lagi berbahan batu kapur (lime stone). Yoni yang terlihat utuh menyembul di atas permukaan air adalah yoni dari bahan batu andesit. Karena bentuk yoni (di tengah yoni terdapat lubang untuk menanamkan lingga) yang ceratnya patah itu terlihat menyerupai lumpang, alat penumbuk padi tradisional, maka dari itu warga sekitar menamai candi ini dengan nama candi Slumpang. Di samping atas candi terdapat bangunan menyerupai makam yang bercungkup dan berpagar kayu. Identitas makam yang bernisankan balok batu bekas reruntuhan candi tersebut statusnya hingga kini masih tanda tanya. Di area makam ini terkumpul beberapa bata kuno (bata merah), dan balok batu (batu kapur) bekas reruntuhan candi. Beberapa fragmen hiasan candi berbahan terakota (tanah liat), salah satunya ada yang ber-relief Kalpataru, juga ikut dikumpulkan disana. 

Candi Slumpang yang Tenggelam

Hiasan Candi Berbahan Terakota

Keberadaan candi Slumpang diduga kuat ada kaitannya dengan Naditira Pradesa, deretan desa (Pradesa) di sepanjang tepian bengawan (Naditira) yang mendapat anugerah status istimewa (sima/perdikan) berkat jasanya dalam penyeberangan sungai (penambangan). Prasasti Canggu atau Ferry Charter 1280 Çaka/1358 M (07 Juli 1358) yang dikeluarkan oleh Raja Hayam Wuruk/Çrĩ Rãjasanagara (raja Majapahit ke-4), menyebut puluhan desa di pinggir aliran dua sungai besar (Bengawan Solo dan Sungai Brantas) beserta anak-anak sungainya yang ditetapkan sebagai desa perdikan (sima). Muhammad Yamin dalam bukunya Tatanegara Majapahit - Parwa II, menyebut Pasiwuran sebagai salah satu desa yang berstatus Naditira Pradesa.

Demikian isi prasasti Canggu/Ferry Charter 1280 Çaka/1358 M [sumber: Muhammad Yamin, Tatanegara Majapahit - Parwa II, hlm. 99] :
"...muwaḥ prakãraning naditira pradeça sthananing anãmbangi i maḍantĕn . i waringin wok . i bajrapura . i sambo (Desa Sambopinggir) . i jerebeng . i pabulangan . i balawi (Desa Blawi) . i luwayu . i katapang (Desa Ketapangtelu) . i pagaran (Desa Jagran) . i kamudi (Desa Kemudi/Desa Kepudibener) . i parijik (Desa Prijek) . i parung (Desa Parengan) . i pasiwuran (Desa Siwuran) . i kĕḍal (Desa Kendal) . i bhangkal (Desa Kebalan Besur) . i wiḍang..."

Pasiwuran yang disebut di dalam prasasti Canggu diduga kuat sekarang menjadi Desa Siwuran - Maduran yang terletak di tepian sisi Selatan Bengawan Solo. Urutan nama desa berdasarkan isi prasasti juga menyebut, bahwa setelah i pasiwuran adalah i kĕḍal. Nama kĕḍal diduga kuat sekarang adalah Desa Kendal. Desa Kendal sendiri jaraknya tidak jauh dari Desa Siwuran (pasiwuran), tepatnya berada di sebelah Baratnya. Dan, lokasinya pun juga sama dengan Desa Siwuran, yakni berada di tepi sisi Selatan Bengawan Solo. Meskipun ada perubahan nama dari Pasiwuran menjadi Siwuran, tetapi secara toponimi perubahan ini masih bisa diterima. Di area persawahan desa Siwuran juga di temukan sebuah yoni berbahan andesit yang posisinya hingga saat ini masih terkubur di dalam tanah. Bukan hanya itu, disekitar temuan yoni juga didapati pecahan bata dan keramik kuno. 

Nampak Yoni Berbahan Andesit dan Cungkup Makam

Dengan statusnya sebagai Naditira Pradesa, Pasiwuran (Siwuran) pada masa itu pastinya sudah mempunyai bandar (pelabuhan sungai) yang menjadi penghubung sosial-budaya dan ekonomi. Tentu saja yang diseberangkan pada saat itu bukan hanya manusia, tetapi juga komoditas pertanian maupun perdagangan lainnya. Dan, karena Bengawan Solo pada waktu itu juga dilalui kapal-kapal dagang besar, bukan tidak mungkin jika pada saat itu sudah terjalin suatu hubungan dagang, baik antar wilayah, antar pulau, maupun antar negara. Jadi, bisa dibilang Pasiwuran (Siwuran) pada masa kejayaannya itu telah menjadi sentra perekonomian, lantaran merupakan tempat yang cukup ramai. Karena itu, Pasiwuran (Siwuran) dulunya pasti merupakan sebuah perkampungan yang padat penduduknya, baik yang ada di sisi Selatan maupun di sisi Utara Bengawan Solo (letak candi Slumpang). 

Arkeolog M Dwi Cahyono Berdiri Disamping Blusuker

Bata Kuno dan Balok Batu 

Sebagai desa yang berstatus Naditira Pradesa, maka tidak heran jika di dekat bandar/pelabuhan sungainya terdapat sebuah bangunan candi (candi Slumpang). Jejak bekas pemukiman juga ditemukan tidak jauh dari lokasi candi. Kurang lebih 300 meter dari arah Timur candi terdapat makam desa yang disekitarnya banyak ditemukan pecahan keramik dan tembikar. Lokasi makam ini diduga kuat dulunya merupakan sebuah perkampungan. Jadi, bisa digambarkan posisi candi Slumpang pada masa itu diduga berada di luar perkampungan. Candi Slumpang adalah candi yang bercorak Hindu (Syiwa) karena di candi ini ditemukan yoni. Candi Slumpang diduga berfungsi sebagai tempat peribadatan karena letaknya tidak jauh dari perkampungan. Selain itu, candi ini juga diduga digunakan sebagai simbol kesuburan (fertility) terkait produksi padi yang melimpah, jika melihat letak candi Slumpang yang hingga saat ini masih berada di tengah area persawahan yang subur dan luas. 

Dua Yoni yang Atas Berbahan Andesit dan yang Bawah Berbahan Batu Kapur 

Sebagai informasi tambahan, Kabupaten Lamongan termasuk daerah yang minim sekali ditemukan candi. Candi Slumpang adalah satu dari sedikit candi yang ditemukan di kota Prasasti ini. Hal ini berbanding terbalik dengan penemuan keramik impor dan tembikar yang sangat banyak dijumpai dihampir seluruh situs yang berada di wilayah Lamongan. Fenomena ini diduga kuat ada kaitannya dengan wilayah strategis Lamongan sebagai daerah yang dilintasi Bengawan Solo yang mana bisa langsung terhubung ke lautan lepas.

Area Persawahan yang Subur dan Luas

Di wilayah Lamongan, sejak masa Airlangga (Medang Kahuripan) tercatat telah terjalin hubungan perdagangan antar negara (Perdagangan Internasional), hal ini dibuktikan dari isi Prasasti Patakan. Prasasti peninggalan raja Airlangga yang lokasi awalnya berada di Desa Pata'an, Kecamatan Sambeng - Lamongan ini menyebut tentang daftar orang-orang asing, dan para profesional yang dikenai pajak. Orang-orang tersebut masuk dalam kategori 'wargga kilalan'. 'Wargga' artinya warga, sedangkan 'kilalan' berasal dari bahasa Jawa kuna 'Kilala' yang artinya diambil miliknya. Jadi, wargga kilalan berarti warga yang diambil miliknya. Selain Prasasti Patakan, prasasti peninggalan raja Airlangga lainnya yang menyebut wargga kilalan adalah Prasasti Cane 943 Çaka/1021M. Lokasi awal prasasti Cane berada di Dusun Cane, Desa Candisari, Kecamatan Sambeng - Lamongan. Sama seperti Patakan, toponim Cane juga hanya terdapat di Lamongan. Adanya penyebutan bangsa asing di dalam Prasasti Patakan dan Cane, menunjukkan bahwa di wilayah Lamongan sejak masa Airlangga telah terjalin hubungan antar negara/hubungan luar negeri (Hubungan Internasional). Dengan adanya hubungan antar negara itu, otomatis didalamnya juga terjalin hubungan perdagangan antar negara. Hal ini diduga berlanjut hingga era Majapahit. 

Bapak M. Dwi Cahyono Sedang Memotret

Sebagai wilayah yang lokasinya sangat strategis, apalagi dengan ditunjang sarana dan prasarana yang memadai, seperti pelabuhan laut dan sungai, hal ini mengakibatkan terjadinya peningkatan perdagangan dalam dan luar negeri yang signifikan, dan akhirnya berdampak pada semakin meningkatnya kemakmuran masyarakat. Di Lamongan, pada masa itu diduga muncul tren, bahwa kekayaan yang didapat dari surplus beras dan hasil-hasil pertanian lainnya tidak lagi diwujudkan dalam bentuk bangunan-bangunan monumental yang megah seperti candi. Akan tetapi, kekayaan itu diwujudkan dalam bentuk kepemilikan barang-barang mewah impor. Barang-barang mewah tersebut antara lain seperti keramik impor dan tembikar, sebagai penanda status sosial mereka. 

Senin, 13 Maret 2017

LAMBANG GARUDAMUKHA LĀÑCHANA PADA PRASASTI YANG DIDUGA BERASAL DARI LAMONGAN

Garudamukha Lāñchana merupakan lambang atau cap kerajaan yang digunakan pada masa pemerintahan raja Airlangga, dan ditorehkan di prasastinya baik dalam bentuk tulisan (Tinanda Garudamukha) maupun dalam bentuk lambang bergambar. 

Garudamukha Lāñchana

Lambang ini baru ditemukan di Prasasti Baru (952 Çaka/1030 Masehi, diduga lokasi asal Prasasti berada di Desa Barurejo, Kec Sambeng - Lamongan), dan Prasasti Garudamukha (945 Çaka/1023 Masehi, diduga lokasi asal Prasasti berada di kec Ngimbang - Lamongan). Lambang ini digambarkan dalam bentuk Garuda sesuai dengan mitosnya, yaitu berdiri menginjak ular (naga) yang merupakan musuhnya dengan sebelah tangannya memegang kendi yang mengeluarkan air kehidupan (amṛta), dan sayapnya mengembang lebar di sisinya. Arti lambang ini menggambarkan bahwa Airlangga membawa kejayaan dan kemakmuran dalam pemerintahannya, dan digambarkan sebagai titisan dari Dewa Wisnu, karena Garuda yang menjadi lambang pada capnya merupakan tunggangan setia dari Dewa Wisnu.

Archa Dewa Wisnu Menunggang Garuda

Berdasarkan bahannya, Prasasti Garudamukha menggunakan batu andesit porfiri atau batu andesit yang memiliki tekstur kristal yang berasal dari mineral lain (plagioklas, amfibol dan opak) dengan kandungan sedang. Dari hasil Laboratorium Museum Geologi Bandung berdasarkan klasifikasi batuan beku (Borrero, 2008), menunjukkan bahwa andesit adalah batuan beku extrusif yang termasuk pada kelompok batuan diantara batuan felsik dan mafik (intermediate). Batuan andesit sendiri memang biasanya ditemukan pada gunung api yang terletak di daratan (Ridley, 2012 : 232–233). Berdasarkan fakta mengenai jenis batuan ini, keletakan prasasti secara relatif dari Prasasti Garudamukha dapat diperkirakan. Berdasarkan tulisan S.A. Carn (2001) dalam Jurnal Petrology, beberapa gunung api di Selatan Jawa Timur memiliki sejarah erupsi yang cukup tua, berkisar antara sebelum abad pertama hingga abad ke-19, seperti Gunung Penanggungan, Gunung Anjasmoro, Gunung Arjuna dan Gunung Lamongan. Secara relatif, kemungkinan gunung asal bahan batu Prasasti Garudamukha adalah Gunung Penanggungan dan Gunung Arjuna, mengingat kedua gunung tersebut letaknya paling dekat dengan konsentrasi letak penemuan prasasti Airlangga lainnya. 

Prasasti masa Airlangga lainnya juga ada yang memiliki perbandingan ciri bahan yang mirip dengan Prasasti Garudamukha, yakni Prasasti Lemahbang. Sehingga, diperkirakan letak asal Prasasti Garudamukha tidak jauh dari letak Prasasti Lemahbang ditemukan, yaitu di sekitar Desa Ngasem Lemahbang, Kec Ngimbang, Kab Lamongan. Wilayah tersebut merupakan daerah konsentrasi dimana prasasti-prasasti pada masa Airlangga banyak ditemukan (Susanti, 2003: 484-485).

Prasasti Lemahbang

Sayangnya, angka tahun pada Prasasti Lemahbang sudah tidak bisa dibaca, namun dapat dilihat bahwa penggunaan batu Andesit kemerahan memang telah dipergunakan pada masa Airlangga meskipun tidak banyak.

Senin, 09 Januari 2017

OUTING SINAU AKSARA JAWA KUNO KOMUNITAS TAPAK JEJAK KERAJAAN


Komunitas Tapak Jejak Kerajaan (TJK) secara rutin setiap satu bulan sekali selalu menyelenggarakan kegiatan Sinau Aksara Jawa Kuno yang bertempat di Museum Mpu Tantular, Sidoarjo - Jawa Timur.

Suasana Sinau Aksara Jawa Kuno di Museum Mpu Tantular - Sidoarjo

Pada hari Minggu yang cerah, tanggal 08 Januari 2017, Komunitas Tapak Jejak Kerajaan mengadakan kegiatan Outing Sinau Aksara Jawa Kuno dengan mengunjungi 5 lokasi cagar budaya, yaitu Prasasti Kusambyan/Grogol, Prasasti Munggut/Sumber Gurit, Situs Sendang Made, Goa Made/Situs Kedung Watu, dan yang terakhir Gunung Pucangan

Acaranya sungguh menyenangkan dan tidak membosankan, karena kita bisa belajar aksara Jawa Kuno, sekaligus belajar sejarah sambil jalan-jalan. Pesertanya-pun lumayan banyak, sekitar 30 orang lebih. Ditambah lagi, selama praktik membaca aksara Kawi secara langsung di prasasti ini, kita juga didampingi oleh ahlinya yang sudah mempunyai jam terbang tinggi dalam membaca aksara di prasasti, beliau adalah sang guru Sinau Aksara Jawa Kuno, Mbah Goenawan A. Sambodo.


Foto Bersama Mbah Goenawan A. Sambodo

Tidak lupa, dalam setiap kunjungan ke masing-masing lokasi cagar budaya, kita juga didampingi oleh sang Jupel (Juru Pelihara). Hal ini membuat kami bisa dengan mudah masuk ke dalam salah satu bilik kecil di Sendang Made yang digunakan untuk menyimpan prasasti dan benda-benda cagar budaya lainnya. Jujur, sebenarnya lumayan susah untuk bisa memasukinya. Kabarnya, menurut keterangan Jupel prasasti Kusambyan dan Munggut, meskipun kita sudah izin ke Jupelnya, belum tentu kita akan diberi izin untuk masuk kedalamnya.

Foto Peserta Outing Sinau Aksara Jawa Kuno

Wajah-wajah Peserta yang Ceriah dan Penuh Semangat

Dalam kesempatan ini, saya ingin sedikit berbagi informasi mengenai kesejarahan dari masing-masing lokasi yang kami kunjungi. Mohon maaf dan mohon dikoreksi kalau ada yang salah!. Maklum saja, disamping baru belajar sejarah, disini penulis juga hanya manusia biasa yang tak sempurna dan kadang salah. Kayak lirik lagu ya? Hehehehe.

1. Prasasti Kusambyan/Grogol

Prasasti Kusambyan/Grogol secara administratif terletak di Dusun Grogol, Desa Katemas, Kecamatan Kudu - Jombang. Prasasti terbuat dari batu andesit dengan aksara dan bahasa Jawa kuno, dan diperkirakan masih in-situ. Kondisi prasasti sudah tidak utuh lagi, karena bagian atasnya pecah menjadi 9 bagian (data 2012). Menurut informasi yang saya dapatkan dari Jupelnya, dahulu (tidak diketahui secara pasti tanggal, bulan, dan tahunnya), kabarnya ada orang yang bersemedi di lokasi prasasti tersebut, maklum lokasi prasasti memang lumayan jauh dari pemukiman penduduk, dan berada di lahan pohon jati milik bapak Wadiso.

Dalam proses semedi, kabarnya ada emas yang terlihat berada di dalam prasasti bagian atas. Oleh karena itu, entah saking tololnya atau saking serakahnya, orang yang bersemedi tadi akhirnya memecah batu prasasti dengan cara memukul-mukulnya (tidak diketahui dengan pasti menggunakan alat apa), hingga akhirnya bagian atas prasasti itu pecah menjadi beberapa bagian, harapannya agar bisa mengambil emas yang menurut penerawangannya berada di dalamnya. Itulah sebabnya mengapa bagian atas prasasti pecah menjadi 9 bagian.

Kondisi Bagian Atas Prasasti Kusambyan/Grogol yang Pecah

Angka tahun Prasasti rusak, namun berdasarkan paleografinya berasal dari masa Airlangga. Isi prasasti menyebutkan dua lokasi penting, yakni Kraton Madander yang dirusak musuh si Cbek disaat perang (ring samarakaryya nguni ri kala satru si Cbek an tamolah makadatwan i Madander = baris 11-12 rect), dan desa Kusambyan yang dikukuhkan menjadi sima/tanah perdikan/bebas pajak (sima ri pageh makarasa sumima thaninya i Kusambyan = baris 15 rect). [Sumber: Titi Surti Nastiti, Prasasti Kusambyan: Identifikasi lokasi Madander dan Kusambyan. AMERTA. Jurnal Penelitian dan Pengembangan Arkeologi vol 31 no 1 Juni 2013, hal 1-80]

Foto disamping Prasasti Kusambyan/Grogol

2. Prasasti Munggut/Sumber Gurit

Prasasti Munggut/Sumber Gurit secara administratif berada di Dusun Sumber Gurit, Desa Katemas, Kecamatan Kudu - Jombang. Prasasti yang terbuat dari batu andesit dengan aksara dan bahasa Jawa kuno ini seluruh aksaranya masih bisa terlihat dengan baik, dan diperkirakan masih in-situ. Prasasti juga dalam kondisi utuh serta terawat (diberi cungkup, berlantai keramik, dan dipagar), dan berdiri di pekarangan/halaman rumah warga. Menurut keterangan dari Jupelnya, rumah warga tersebut tidak lain adalah rumah milik bapaknya si Jupel sendiri. 

Foto Peserta Outing Sinau Aksara Jawa Kuno di Prasasti Munggut/Sumber Gurit

Peserta Outing Sinau Aksara Jawa Kuno Sedang Berpose di Depan Prasasti Munggut/Sumber Gurit

Isi prasasti peninggalan Raja Airlangga tersebut tersusun menjadi 24 baris, masing-masing untuk sisi depan (recto) dan belakang (verso), serta 42 baris untuk kedua sisi lainnya (semua sisi prasasti terpahat/terukir aksara). Ditetapkan pada tanggal 14 Krisnapaksa, Bulan Caitra, Tahun 944 Çaka (03 April 1022 M). Prasasti Munggut memuat berita tentang penetapan sima (tanah perdikan/bebas pajak) bagi penduduk Desa Munggut (sekarang masuk dalam wilayah Dusun Sumber Gurit). 

Berikut kutipan isi Prasasti Munggut/Sumber Gurit mulai dari baris 3 hingga 8 recto:

3. Swasti saka warsatita, 944 cetramasa dewata tithi caturdasi Krana* 
4. Paksa, wu, pa, an, wara, balamukti, katika karana naksatra, dahama dewata..
5. Yaja, wanija karana, irika dewansyajna sri maharaja rake halu sri lokeswara
6. Dharmawangsa Airlangga wikramattunggadewa**, tinadah rakryan mahamantrina sri sanggra
7. Ma wijaya prasadottunggadewi, uminsor i rakryan pacang pu dwija kemanakenikanag kara
8. … munggut*** sapasuk thani..

* tanggal penetapan
** nama raja
***nama desa/thani
[Sumber: https://gapurajombang.wordpress.com/2014/05/02/prasasti-sumber-gurit-prasasti-munggut/comment-page-1/]

Foto disamping Prasasti Munggut/Sumber Gurit

Peserta Foto Bersama Jupel Prasasti Munggut/Sumber Gurit

3. Situs Sendang Made

Situs Sendang Made secara administratif terletak di Desa Made, Kecamatan Kudu - Jombang. Di Sendang Made kita bisa menjumpai beberapa sendang, ada Sandang Drajat, Sendang Pengilon, dan Sendang Paomben. Menurut legenda, saat berada disekitar Kapucangan, Airlangga sempat singgah di Sendang Made. Setelah mandi di sendang tersebut, Airlangga yang masih menyamar sebagai pengamen menjadi semakin laris. Dari legenda inilah lahir upacara adat “Kungkum” yang hingga kini masih dilestarikan. Upacara adat tersebut biasanya dilakukan oleh para sinden agar karirnya semakin laris dengan berendam di dalam Sendang Made. [Sumber: https://gapurajombang.wordpress.com/2014/05/04/situs-sendang-made/]

Lokasi Sendang Made

Berteduh Sambil Beristirahat di Pendopo yang Terdapat di Sendang Made

Di Sendang Made kita juga bisa menjumpai beberapa benda cagar budaya, seperti prasasti, fragmen arca, panil relief, dan gentong kuno. Benda-benda tersebut diamankan di dalam salah satu bilik kecil di pinggir Sendang yang pintunya selalu tertutup dan digembok. Hal ini dilakukan untuk menjaga agar benda-benda cagar budaya yang disimpan di dalamnya aman dan tidak hilang. Selain benda-benda tadi, di dalam bilik tersebut juga tersimpan beberapa pecahan terakota. Dalam kunjungan saya yang kedua kalinya ini, saya bersyukur akhirnya bisa memasuki bilik kecil tersebut, meski harus berdesak-desakan dengan teman-teman penggiat sejarah lainnya yang sangat antusias dan penasaran ingin melihat prasasti Sendang Made.

Benda-Benda Cagar Budaya yang Disimpan di Dalam Bilik Kecil

Prasasti Sendang Made ditulis dengan menggunakan aksara kuadrat, yakni aksara Kawi atau Jawa Kuno yang ditulis dengan bentuk huruf menyerupai kotak atau bujursangkar, semacam jenis huruf cetak tebal (Bold), yang lazim digunakan pada masa Airlangga. Tapi anehnya, di atas prasasti terdapat potongan batu angka tahun era Majapahit. Angka tahun tersebut terbaca 1363 Çaka atau 1441 M, era pemerintahan Bhra Prabhu Stri Dewi Suhita, raja Majapahit ke-8. Sedangkan aksara Kuadrat di prasasti terbaca (mohon maaf kalau salah dan mohon koreksinya):

tuk = menari
iŋ / ing = di
wasanta = musim semi (bunga)
yage..? = ?????
paraṇdhi = dermawan / murah hati

Menari di musim semi?. Apakah potongan isi prasasti tersebut ada kaitannya dengan legenda penyamaran Airlangga sebagai pengamen?. Hingga akhirnya lahir upacara adat "kungkum" di Sendang Made yang sampai saat ini masih dilestarikan?. "jangan-jangan?". Memang, prasasti ini menjadi petunjuk penting tentang keterkaitan antara Sendang Made dengan Raja Airlangga.

Prasasti Beraksara Kuadrat yang di Atasnya Terdapat Potongan Batu Angka Tahun

Foto Bersama Benda-Benda Cagar Budaya yang Disimpan di Dalam Bilik Kecil

4. Goa Made/Situs Kedung Watu

Sama seperti Situs Sendang Made, Goa Made/Situs Kedung Watu secara administratif juga berada di Desa Made, Kecamatan Kudu - Jombang. Jarak antar kedua situs tersebut tidaklah jauh. Situs Kedung Watu atau lebih dikenal dengan nama Goa Made merupakan lokasi peninggalan purbakala yang masih menyimpan misteri tentang penemuan topeng, karena belum pernah ada topeng dan kerak besi yang ditemukan di dalam goa bawah tanah. Beberapa ahli melakukan analisis terhadap topeng tersebut guna membuka tabir misteri Goa Made. Ada yang menyimpulkan topeng tersebut terbuat dari bahan Cermet, ada juga yang menduga terbuat dari bahan Terakota. [Sumber: https://iaaipusat.wordpress.com/2012/04/09/fenomena-topeng-gua-made/]

Lokasi Goa Made

Pengamatan di Goa Made

Menurut arkeolog dari University of Arkansas (Romeo Center), Amerika Serikat, Claudio Giardino, dalam paparannya yang disampaikan di Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia, Kamis (11/8/2011), mengatakan bahwa dari serangkaian uji material yang mereka lakukan, beberapa topeng goa made mengandung tanah liat, tembaga, dan seng. Sementara topeng yang lainnya terbuat dari campuran tanah liat, timah, dan besi. Campuran (keramik) dan berbagai jenis logam (metal) ini dikenal sebagai 'cermet' (ceramic metal).

Temuan topeng dari material 'cermet' ini merupakan satu-satunya di dunia. Karena, sebagian besar temuan topeng dari situs-situs di dunia terbuat dari emas dan kayu. Di masa sekarang, 'cermet' dikembangkan untuk membuat cip komputer. 

Peserta Tidak Ada yang Berani Masuk ke Dalam Goa

Menurut Guru Besar Arkeologi Universitas Indonesia, Agus Aris Munandar, jika dilihat dari konteks temuannya yang berada di dalam Goa Made, topeng tersebut diperkirakan berasal dari abad ke-10 sampai abad ke-14 Masehi. Topeng tersebut diduga ada kaitannya dengan situs Kerajaan Majapahit di Trowulan. Menurutnya, bata yang dibuat untuk membangun Goa Made ukurannya sama dengan bata di Trowulan. Goa Made sebenarnya merupakan terowongan memanjang yang berada di bawah permukaan tanah dan mulutnya sangat sempit. [Sumber: http://sains.kompas.com/read/2011/08/12/11352481/Topeng.Goa.Made.Diteliti]

Mulut Goa yang di Atas Langit-langitnya Terlihat Struktur Bata Kunonya. Di Atas Permukaan Mulut Goa Juga Terdapat Tumpukan Bata Kuno

Dari pengamatan saya selama di lokasi Situs Kedung Watu/Goa Made, saya mendapati ada dua lobang (mulut) Goa, satu sudah diberi cungkup, dan satunya lagi belum. Lobang (mulut) Goa yang bercungkup merupakan tempat penemuan topeng, dan menurut informasi dari sang Jupel, kondisi lobang goa-nya mulai dari mulut goa sampai ke dasar goa langsung turun vertikal dengan kedalaman kurang lebih 5 meter. Memang bila kita amati dari atas, goa tempat penemuan topeng tersebut sepintas mirip seperti sumur.

Goa Tempat Penemuan Topeng yang Diberi Cungkup

Ada juga lobang goa yang tidak bercungkup dan di atas mulut goanya terdapat tumpukan bata kuno dengan ukuran besar, yaitu 45×20×10. Lobang (mulut) goanya sempit, dan bila kita sedikit masuk kedalamnya akan terlihat struktur bata kuno yang menyangga langit-langit goa (tertata diatas langit-langit goa), semacam bangunan bekas terowongan. Diduga goa ini buatan manusia (warisan leluhur) yang pada zaman dulu (entah pada masa kerajaan Majapahit?) berfungsi sebagai gorong-gorong, karena memang mirip seperti terowongan saluran air. Selain diduga sebagai saluran air, goa ini juga diduga berfungsi sebagai tempat pelarian atau persembunyian, semacam bunker.

Salam Boto Lawas di Atas Mulut Goa yang Tidak Bercungkup

5. Gunung Pucangan

Gunung Pucangan secara administratif berada di Desa Cupak, Kecamatan Ngusikan - Jombang. Gunung yang terkenal dengan cerita mistisnya ini diduga kuat sebagai tempat asal Prasasti Pucangan yang sekarang kabarnya ditelantarkan di gudang Museum di Calcutta India. Di gunung yang hutannya masih lumayan lebat ini, kita bisa menemukan beberapa Sendang atau kolam pemandian, seperti Sendang Dermo dan Sendang Widodaren. Pada hari tertentu (Malam Jumat Legi) gunung ini akan ramai dikunjungi oleh warga yang mempunyai hajat untuk meminta berkah.

Panorama Alam di Gunung Pucangan

Blusukan di Gunung Pucangan

Di gunung Pucangan kita juga bisa menjumpai beberapa makam kuno, seperti makam Dewi Kili Suci, dan beberapa makam kuno lainnya. Makam-makan kuno tersebut ada yang masih berkijingkan tatanan bata kuno, dan ada juga yang sudah berkijing keramik (baru dipugar). Apakah makam-makam kuno tadi memang benar-benar sebuah makam atau bukan?. Memang layak untuk dicurigai, "jangan-jangan?". Sebaran bata kuno di gunung Pucangan memang lumayan banyak, bahkan anak tangga di gunung Pucangan juga terbuat dari tatanan bata kuno. Jadi, patut diduga jika sebaran bata kuno tersebut adalah bekas reruntuhan bangunan ("Jangan-jangan?").

Makam Dewi Kili Suci

Makam yang Kijingnya Terbuat dari Tatanan Bata Kuno

Begitu kami tiba di Gunung Pucangan, lokasi pertama yang kami kunjungi adalah makam Dewi Kili Suci. Disana kami sempatkan untuk berdiskusi bersama Juru Pelihara/Juru Kunci makam mengenai kesejarahan dari makam Keramat tersebut sambil meminta izin untuk memasuki lokasi makam. Setelah mendapatkan izin, kami langsung masuk ke dalam lokasi makam. Kondisi makam bercungkup dan tertutup rapat, sehingga suasananya gelap, karena kurang cahaya. Di dalam cungkup makam Dewi Kili Suci, kami menemukan 2 makam yang berdampingan dengan nisan berukuran sama besar, dan sama-sama terbungkus kain putih. Karena demi untuk kepentingan penelitian, kami akhirnya memberanikan diri untuk membuka kain putih pembungkus nisan makam tersebut, tentunya dengan tidak mengurangi rasa sopan dan hormat kami terhadap makam keramat ini.

Anak Tangga di Gunung Pucangan yang Terbuat dari Tatanan Bata Kuno 

Diskusi Sejarah Bersama Juru Kunci Makam Dewi Kili Suci Sekaligus Meminta Izin Untuk Masuk Kedalam Lokasi Makam

Setelah berhasil dibuka, ternyata nisan makam tersebut adalah sebuah Lingga berukuran besar yang sudah dicat warna putih. Begitu juga dengan nisan makam yang berada disebelahnya, ternyata juga sama, yakni sebuah Lingga yang memiliki ukuran sama besar. Entah kedua Lingga yang berdampingan tersebut masih in-situ atau tidak?. Sekarang yang menjadi pertanyaannya adalah apakah kedua makam tadi benar-benar makam atau bukan?. Ya, patut untuk dicurigai, "jangan-jangan?".

Proses Membuka Kain Putih Pembungkus Nisan Salah Satu Makam. Dan, Ternyata Nisan Tersebut Adalah Sebuah Lingga

Sebuah Lingga Bercat Putih yang Selama ini Dijadikan Nisan Makam

Sebelumnya saya sudah pernah berkunjung ke gunung Pucangan, dan waktu itu saya hanya menemukan 2 Lingga saja, yang juga berukuran besar. Yang satu berada di depan Mushola di dekat pohon rindang, dan yang satunya lagi berada di samping 3 makam panjang yang sekarang sudah dikelilingi pagar tembok, berlantai dan berkijingkan keramik, juga sudah diberi atap yang menyerupai rumah gadang. Bangunan tersebut tergolong masih baru, karena waktu saya mengunjungi gunung Pucangan kurang lebih setahun yang lalu, masih belum ada bangunan baru itu. Dan, dulu ketiga makam panjang tersebut, kijingnya masih terdiri dari tatanan bata kuno. Kedua Lingga tadi diperkirakan sudah tidak in-situ lagi. Jadi, jumlah total Lingga yang berada di Gunung Pucangan semuanya berjumlah 4 Lingga dengan ukuran yang hampir sama besar.

Kang TP PIKNIK Sedang Melakukan Penghormatan Terhadap Benda Peninggalan Leluhur, yakni Sebuah Lingga di Depan Mushola di Sebelah Pohon Rindang

Mbah Goenawan A. Sambodo Sedang Berpose di Samping Lingga yang Berada di Samping 3 Makam yang Sudah di Kelilingi Tembok Baru. 

"Tulisan itu rekam jejak. Sekali dipublikasikan, tak akan bisa kau tarik. Tulislah hal-hal berarti yang tak akan pernah kau sesali kemudian." (Helvy Tiana Rosa).

FOLKLOR CANE BUKTI AIRLANGGA DAN GARUḌAMUKHA BERJAYA DI BUMI JANGGALA

Cerita tutur merupakan salah satu bentuk kearifan lokal. Tradisi menuturkan peristiwa sejarah sudah lama diperkenalkan oleh leluhur kita seb...