Selasa, 26 Desember 2017

PRASASTI MUNGGUT/SUMBER GURIT 944 ÇAKA/1022 M

Prasasti Munggut/Sumber Gurit secara administratif terletak di Dusun Sumber Gurit, Desa Katemas, Kecamatan Kudu, Kabupaten Jombang. Prasasti yang terbuat dari batu andesit dengan aksara Kawi dan bahasa Jawa Kuna ini diperkirakan masih in-situ. Kondisi prasasti dalam keadaan baik, utuh dan terawat, diberi cungkup, berlantai keramik dan dikelilingi pagar tembok. Aksaranya pun masih terlihat jelas dan bisa dibaca. Prasasti peninggalan Raja Airlangga ini letaknya persis di pekarangan/halaman rumah warga (berdiri di depan rumah warga). Menurut keterangan Jupelnya, bapak Badri, rumah warga tersebut tidak lain adalah rumah milik bapaknya si Jupel sendiri. 

Foto Bersama Prasasti Munggut/Sumber Gurit 

Prasasti yang berbentuk blok dengan puncak kurawal ini semua sisinya terpahat/terukir aksara, baik sisi depan (recto), sisi belakang (verso), maupun kedua sisi lainnya/sisi samping (margin). Prasasti Munggut dikeluarkan oleh Raja Airlangga dengan gelar abhiseka Çri Mahãrãja Rakai Halu Çri Lokeçwara Dharmmawaṅça Airlaṅga Anãntawikramottuṅgadewa, dengan Çrĩ Sanggrãmawijaya Dharmmaprasãdottunggadewa sebagai Rakryãn Mahãmantrĩ i Hino-nya. Isi prasasti Munggut, selain tentang penetapan sima/perdikan bagi penduduk Desa Munggut (sekarang masuk dalam wilayah Dusun Sumber Gurit), juga menyebut Keraton Airlangga di Wwatan Mas. Prasasti yang menyebut Keraton Wwatan Mas selain Prasasti Munggut, yakni Prasasti Cane (943 Çaka/1021 M) dan Prasasti Terep (954 Çaka/1032 M).

PRASASTI KUSAMBYAN/GROGOL

Prasasti Kusambyan/Grogol secara administrasi terletak di Dusun Grogol, Desa Katemas, Kecamatan Kudu, Kabupaten Jombang. Prasasti yang terbuat dari batu andesit dengan aksara Kawi dan bahasa Jawa Kuna ini kondisinya sudah tidak utuh lagi, karena bagian atasnya pecah menjadi 9 bagian. Hal ini mengakibatkan angka tahun prasasti tidak bisa dibaca, karena bagian atas prasasti sudah rusak. Pada bagian atas prasasti inilah biasanya penanggalan ditulis, akan tetapi berdasarkan paleografi-nya diketahui berasal dari masa Raja Airlangga (1019-1042 M).

Kondisi Prasasti Kusambyan/Grogol yang Bagian Atasnya Pecah
Foto Bersama Prasasti Kusambyan/Grogol 

Prasasti yang diperkirakan masih in-situ ini menyebut dua lokasi penting, yang pertama yaitu keraton Maḍaṇḍĕr: "..ri kāla nikanaŋ śatru si cbek °an tamolaḥ madwal makadatwan °i madanḍĕr.." , "..pada saat musuh si Cbek terus menerus merusak keraton di Madaṇḍĕr..". Dan, yang kedua yaitu desa Kusambyan yang dikukuhkan menjadi daerah perdikan: "..simā ri pagĕḥ makarasa sumima thāninya °i kusambyan.." , "..daerah perdikan yang ditetapkan [dan] dinikmati [tersebut adalah] daerah perdikan di Desa Kusambyan..". 

Kamis, 21 Desember 2017

'PAMŪJĀ HYANG IWAK' DI PRASASTI WALAMBANGAN/PRASASTI JAYANEGARA I

Prasasti Walambangan/Prasasti Jayanegara I terbuat dari lempeng tembaga (Tamra Prasasti), dan ditemukan di Kabupaten Lamongan, Jawa Timur. Prasasti yang baru ditemukan satu lempeng ini menggunakan aksara Kawi dan bahasa Jawa Kuna yang tertulis pada kedua sisinya. Pada sisi depan (recto) terdapat 8 baris tulisan dan pada sisi belakang (verso) terdapat 7 baris tulisan. 

Bagian yang memuat angka tahun tidak ada, tetapi menurut dugaan Poerbatjaraka, Prasasti Walambangan/Prasasti Jayanegara I berasal dari masa Jayanegara (Majapahit) yang ditulis setelah menumpas pemberontakan Nambi yang terjadi di Balambangan. Dugaan itu mengacu pada isi prasasti di bagian sisi depan (recto) baris ke-2: "..anapwa ikanang kārāmān i malambangan.." (Poerbatjaraka, 1936 : 39). Mengacu pada tulisan Poerbatjaraka, Yamin menuliskan angka tahun dikeluarkannya prasasti ini yaitu ± 1316 (Yamin, 1962 : 37, 40).

Menariknya, di dalam Prasasti Walambangan/Prasasti Jayanegara I disebutkan adanya pemujaan terhadap 'Hyang Iwak' (ikan yang dipuja atau ikan yang suci), seperti yang termuat pada sisi depan (recto) baris ke-5: 

"..pamūjā hyang iwak, sakinabhaktyanya ri lagi phalanyān susṭubhakti ri śrī mahārāja.."
"..pemujaan [kepada] hyang iwak, pemujaan yang tiada henti-hentinya sebagai tanda setia kepada Śrī Māharāja.." 

Bengawan Solo - Lamongan

Tokoh 'hyang iwak' ini memang misterius. Pemujaan terhadap hyang iwak selain diberitakan di prasasti Jayanegara I juga terberitakan di prasasti Kusambyan/Grogol (era Airlangga). Prasasti Kusambyan menyebutnya sebagai 'rahyang iwak'. Dan, menariknya prasasti Kusambyan letaknya dekat dengan sungai Brantas, apakah ini ada hubungannya dengan pemujaan terhadap rahyang iwak?. Begitu pula dengan prasasti Jayanegara I yang ditemukan di Lamongan, wilayah Lamongan juga dilalui Bengawan Solo, apakah ini juga ada hubungannya dengan pemujaan terhadap hyang iwak?

Jika mengacu pada dugaan Poerbatjaraka (pemberontakan Nambi), tentunya prasasti Jayanegara I tidak berasal dari Lamongan, jadi hanya ditemukan di Lamongan. Akan tetapi, prasasti Jayanegara I hanya menyebut çrī mahārāja saja tanpa menyebutkan nama dan gelarnya, juga tidak menyebut nama Nambi.

Adanya pemujaan kepada 'Hyang Iwak' oleh masyarakat Lamongan Kuna, diduga dikarenakan masyarakat Lamongan zaman dulu yang memuja 'Hyang Iwak' hidupnya bergantung pada sungai. Seperti diketahui bahwa, prasasti Jayanegara I ditemukan di Lamongan, yang mana Kabupaten ini dilalui oleh dua sungai besar, yakni Sungai Lamong dan Bengawan Solo beserta anak sungainya (Bengawan Njero).

Selasa, 19 Desember 2017

MENOLAK LUPA, PRASASTI PAMWATAN/PAMOTAN BUKTI JEJAK KERATON DAHAṆA(PURA) DI BHUMI LAMONGAN

Prasasti Pamwatan/Pamotan 964 Çaka/1042 M (19 Desember 1042 M) secara administratif terletak di Desa Pamotan, Kecamatan Sambeng, Kabupaten Lamongan. Tepatnya berada di lereng sisi Utara gunung Pucangan (lokasi asal prasasti Pucangan?). Prasasti berbahan batu andesit dengan aksara dan bahasa Jawa Kuna ini dikeluarkan oleh Raja Airlangga dengan gelar abhiseka Çri Mahãrãja Rakai Halu Çri Lokeçwara Dharmmawaṅça Airlaṅga Anãntawikramottuṅgadewa dengan Rakryãn Mahãmantrĩ i Hino-nya Çrĩ Samarawijaya (Damais 1955 : 183). 

Foto Prasasti Pamwatan/Pamotan yang Pada Sisi Depan (recto) Bagian Atas Prasasti Terpahat Tulisan 'dahaṇa' Dalam Aksara Kwadrat 

Pada sisi depan (recto) bagian atas prasasti terdapat tulisan yang berbunyi 'dahaṇa' dalam aksara kwadrat. Hal ini tentunya menimbulkan dugaan, bahwa wilayah desa Pamotan dan sekitarnya merupakan pusat Ibu Kota kerajaan atau Keraton Dahaṇa(Pura). Dahaṇa(Pura) sendiri diperkirakan sebagai ibu kota kerajaan Airlangga yang terakhir (Soemadio 2008 : 211). Nama Daha atau Dahaṇa(Pura) tersebut di dalam uraian Serat Calon Arang sebagai ibu kota/keraton kerajaan Airlangga, namun dalam uraian serat tersebut tidak disebutkan secara pasti dimanakah persisnya letak keraton Dahaṇa(Pura) itu berada.

Nama Dahaṇa/Daha diduga lebih dulu dijadikan sebagai nama ibu kota kerajaan Medang (Airlangga) dan Paṅjalu, sebelum akhirnya menjadi nama ibu kota kerajaan Kaḍhiri. Jadi, meskipun Medang, Paṅjalu, dan Kaḍhiri mempunyai nama ibu kota yang sama, yaitu Dahaṇa/Daha, tidak berarti Medang dan Paṅjalu itu identik dengan Kaḍhiri. Dalam Old Javanese English Dictionary (OJED), kamus Jawa Kuna versi terjemahan bahasa Inggris, 'dahaṇa' berasal dari kata dasar 'daha' yang artinya: to rule; regulate; be the leader; be the foremost; to exceed; excel (menguasai/memerintah; mengatur; menjadi pemimpin; menjadi terkemuka; melebihi/melampaui; mengungguli), dan mendapat tambahan atau akhiran 'ṇa' (pakai ṇ titik bawah) yang berarti untuk 'me-sangat-kan'. Jadi, kemungkinan 'dahaṇa'pura artinya adalah ibu kota/keraton/istana yang sangat (paling) terkemuka.

Foto Prasasti Pamwatan/Pamotan 

Sayangnya, prasasti yang isinya masih belum tuntas dibaca itu, karena bagian bawah prasasti masih terpendam tanah dan diduga masih ada aksaranya, hilang akibat dicuri. Prasasti Pamotan diperkirakan dicuri pada tengah malam tanggal 11 September 2003. Dugaan tersebut didasari dari keterangan beberapa warga desa Pamotan yang mengaku sudah tidak lagi menjumpai Prasasti batu tersebut di tempatnya sejak tanggal 12 September pagi (sumber: Radar Bojonegoro). Hilangnya prasasti Pamotan pada akhirnya menimbulkan perdebatan panjang dan melahirkan berbagai macam tafsiran mengenai kata 'dahaṇa' yang terukir di atas prasasti. 

Sebagai informasi tambahan, tepat pada hari ini, Selasa tanggal 19 Desember 2017 adalah hari ulang tahun desa Pamotan yang ke-975 tahun. Bila merujuk pada penanggalan di prasasti Pamotan, yakni 19 Desember 1042 Masehi (2017 - 1042 = 975).

• RDM Verbeek, dalam VBG 46,1891, "Oudheden van Java LIJST DER VOORNAAMSTE OVERBLIJFSELEN UIT DEN HINDOETIJD OP JAVA IET EENE OUDHEIDKUNDIGE KAART" hal 221, mencatat 435. Pamotan. District Mantoep, afdeeling Lamongan, Blad E. X. Een gebroken beschreven steen ; afdruk sedert 1888 in het Museum. Jaartal 964 Çaka.
• TBG 53, 1911 hal 249
• L Ch Damais, Etudes d’Epigraphie Indonesienne III hal 64-65 no 143 BEFEO XLVI fase 1. 1952
• L Ch Damais, Etudes d’Epigraphie Indonesienne IV hal 183. BEFEO XLVII fase 1. 1955
• Slamet Mulyana dalam Catatan singkat sejarah Kadiri Kuna, menyebut tanggal prasasti itu adalah 19 November 1042

Keadaan prasasti sudah tidak memungkinkan untuk diambil absklatnya, karena kondisi batu prasasti sudah sangat aus. Tinggi prasasti yang tampak sekitar 100 cm, sebagian terpendam tanah. Pada bagian atas batu prasasti terdapat aksara kwadrat yang berbunyi 'dahaṇa'. Baris pertama masih dapat terbaca, namun baris berikutnya sudah aus. Dua baris tepat di atas permukaan tanah sisi depan meskipun samar namun masih dapat terbaca. Prasasti ini tertulis pada ke empat sisinya. Secara administratif terletak di Dusun Pamotan, Desa Pamotan, Kecamatan Sambeng, Kabupaten Lamongan.

Jumat, 10 November 2017

KEN DEDES STRI NARESWARI

Ken Dedes adalah Bunga, yakni 'Bunga Desa' Panawijen yang oleh Pararaton dikabarkan sangat masyhur di kawasan Timur Gunung Kawi hingga Tumapel. Ken Dedes dilukiskan sebagai wanita cantik yang kecantikannya diibaratkkan mampu mengalahkan keindahan Sang Hyang Sasadara (Rembulan).

Dalam naskah Pararaton, Ken Dedes juga digambarkan sebagai seorang yang mendapat karma 'amamadangi', yakni perilaku yang tercerahkan lantaran matang dalam ilmu. Dalam arca perwujudannya, Ken Dedes diwujudkan sebagai Dewi Ilmu Pengetahuan Tertinggi (Prajnaparamita).

Jadi, Ken Dedes bukanlah wanita yang hanya cantik secara ragawi, namun juga elok kepribadinnya (inner beauty), cantik luar dalam. Oleh karenanya, cukup beralasan jika Ken Dedes mendapat sebutan 'Stri Nareswari' (Wanita Utama). Hal ini dapat dipahami, karena Ken Dedes merupakan putri seorang pendeta beragama Buddha aliran Mahayana, bernama Mpu Purwa. 

Foto di Depan Arca Perwujudan Ken Dedes di Malang - Jawa Timur 

Dalam kitab Pararaton dikisahkan bahwa Ken Angrok terperangah ketika tanpa sengaja melihat betis Ken Dedes, hingga terlihatlah bagian rahasianya yang bersinar. Menurut Danghyang Lohgawe, seorang Brahmana dari India, wanita dengan pertanda demikian memiliki potensi kebesaran. Siapapun yang menikahinya, kelak dia dan sanak keturunannya akan menjadi orang/raja besar. Apa yang diramalkan Danghyang Lohgawe terbukti benar, keturunan Ken Dedes terbukti bukan hanya menjadi raja-raja di Tumapel (Singhasari), namun juga menjadi raja-raja di Majapahit. Oleh karena itu, cukuplah alasan bila Ken Dedes dinyatakan sebagai “ibu sekalian para raja”.  Selengkapnya Pararaton mengisahkan:

"..Satekanira ring taman Boboji sira Ken Dedes tumurun saking padati, katuwon pagawening Widhi, kengis wetisira, kengkab tekeng rahasyanira, neher katon murub denira Ken Angrok, kawengan sira tuminghal, pituwi dening hayunira anulus, tan hanamadani ring listu hayunira, kasmaran sira Ken Angrok tan wruh ring tingkahanira. Saulihira Tunggul Ametung saking pacangkrama, sira Ken Angrok awarah ing sira Danghyang Lohgawe, lingira : ʺBapa Danghyang, hana wong istri murub rahasyane, punapa laksananing stri lamun mangkana, yen hala rika yen ayu rika laksananipun ?ʺ. Sumahur sira Danghyang: ʺSapa iku kaki ?ʺ. Lingira Ken Angrok: ʺWonten bapa, wong wadon katinghalan rahasyanipun deningsunʺ. Lingira Danghyang Lohgawe: ʺYen hana istri mangkana kaki, iku Stri Nariçwari arane, adimukyaning istri iku kaki, yadyan wong papa angalapa ring wong wadon iku, dadi ratu añakrawarti..".

"..Setibanya ditaman Boboji Ken Dedes turun dari kereta, kebetulan dengan takdir Dewa, terbukalah betisnya, sampai kebagian pusatnya, lalu tampak bersinar oleh Ken Angrok, kecantikannya yang murni, tak ada yang menyamai cantiknya, jatuh cintalah Ken Angrok tak tahu apa yang diperbuatnya. Sepulang Tunggul Ametung dari tempat bercengkrama, Ken Angrok memberi tahu kepada Danghyang Lohgawe, katanya: ʺBapak Danghyang, adalah seorang wanita yang pusatnya mengeluarkan cahaya, apakah tandanya wanita begitu, tanda baik atau buruk ?ʺ. Menjawablah sang Danghyang: ʺSiapakah itu, anakku ?ʺ. Berkata Ken Angrok: ʺAda seorang wanita yang tampak bagian pusatnya olehku, bapakʺ. Berkatalah Danghyang Lohgawe: ʺAnakku, jika ada wanita serupa itu, namanya Stri Nariçwari, wanita paling utama itu anakku, meskipun orang hina kalau mengambil wanita itu sebagai isterinya maka ia akan jadi raja besar..".

[Sumber: Kitab Pararaton]

J.L.A. Brandes, 1897, Pararaton (Ken Arok) of het boek der Koningen van Tumapěl en van Majapahit. Uitgegeven en toegelicht. Batavia: Albrecht; 's Hage: Nijhoff. VBG 49.1.

Jumat, 03 November 2017

SEKUNTUM MAWAR MERAH DI CANDI SHINTA - GUNUNG PAWITRA

Padahal, segunung apapun diamku merenung, tak mungkin aku sampai pada pemahaman mengapa aku mencintaimu. RAHWANA: "Tuhan, jika cintaku pada Shinta terlarang, kenapa Kau bangun megah perasaan ini dalam sukmaku?" (Sudjiwo Tedjo). 

Sekuntum Mawar Merah di Candi Shinta

Ketika Rahwana berangkat perang, pundaknya dipegang untuk pertama kalinya oleh sang Dewi Shinta. RAHWANA: "Apakah ini pertanda kau sudah mencintaiku Shinta?"

Sekuntum Mawar Merah Untuk Shinta

Shinta tak menjawab, dia hanya meneteskan air mata. Dalam hati kecil RAHWANA berkata: "Tiada yang salah dengan Cinta. Menikah itu Nasib. Mencintai itu Takdir. Kau bisa berencana menikahi siapa saja. Tapi kau tak bisa rencanakan cintamu untuk siapa."

Kamis, 02 November 2017

KUNJUNGAN RAJA HAYAM WURUK KE TEMPAT SUCI KEAGAMAAN KAUM RSI DI GUNUNG PAWITRA/PENANGGUNGAN

Berdasarkan sumber data tekstual (prasasti atau susastra), 'Darmma' (tempat Suci Keagamaan) kaum 'Rsi' di lereng Gunung Pawitra/Penanggungan pernah dikunjungi oleh raja Hayam Wuruk. Kunjungan Raja Hayam Wuruk tersebut terberitakan dalam Kakawin Desyawarnana atau disebut juga Nagarakretagama karya mPu Prapanca pupuh 58 bait 1.

Candi Lurah di Gunung Pawitra/Penanggungan

Candi Naga II di Gunung Pawitra/Penanggungan

Demikian isi Kakawin Desyawarnana/Nagarakretagama pupuh 58 bait 1:
"...warnnan i sahnira riɳ jajawa riɳ padameyan ikaɳ dinunuɳ, mande cungran apet kalanön / numahas iɳ wanadeçalnöɳ, darmma karsyan i parçwanin acala pawitra tikaɳ pinaran, ramya nikan panunaɳ luralurah inikhötnira bhasa khiduɳ..."

"...diuraikan lagi seperginya beliau (Hayam Wuruk) dari Jajawa (candi Jawi) ke (desa) Padameyan berhenti di (desa) Cungrang mendapat keindahan masuk hutan rindang mengaguminya, darmma (tempat suci keagamaan) kaum Rsi di lereng gunung Pawitra/Penanggungan dikunjungi, tempat yang menawan memandang ke bawah jurang lembah dilengkapi dengan senandung kidung..." 

PENDAKIAN BUJANGGA MANIK KE GUNUNG PAWITRA/PENANGGUNGAN

Darmma (Tempat Suci Keagamaan) kaum Rsi di gunung Pawitra/Penanggungan selain pernah dikunjungi oleh Raja Hayam Wuruk (Kakawin Nãgarakṛtãgama atau Deçawarṇana pupuh 58 bait 1), juga pernah dikunjungi oleh Bujangga Manik (Naskah Bujangga Manik - Noorduyn 1982 : 426). Bujangga Manik adalah seorang pangeran dari istana Pakuan di Cipakancilan, dengan gelar Pangeran Jaya Pakuan, akan tetapi dia lebih suka menempuh jalan hidup asketis (Asketisme). 
Situs Meja Altar Dengan Tangga Makara Gajah di Bukit Gajah Mungkur - Gugusan Gunung Pawitra/Penanggungan.


Di dalam Naskah/Catatan Perjalanan Bujangga Manik yang ditulis antara tahun 1475-1525 M, tertulis bahwa Bujangga Manik, seorang penyair kelana dari Pakuan, pernah mendaki gunung Pawitra/Penanggungan dan mengunjungi Rabut (Tempat Suci) di bukit Gajah Mungkur, salah satu bukit Perwara/Pengawal di gunung Penanggungan.

Panorama Alam di Situs Meja Altar Dengan Tangga Makara Gajah di Bukit Gajah Mungkur - Gugusan Gunung Pawitra/Penanggungan.

Demikian isi Naskah/Catatan Perjalanan Bujangga Manik (Naskah Bujangga Manik - Noorduyn 1982 : 426) tentang Pawitra yang ditulis dengan menggunakan bahasa Sunda Kuna: 

"...Sadatang ka Pali(n)tahan, samu(ng)kur ti Majapahit, na(n)jak ka gunung Pawitra, rabut gunung Gajah Mun(ng)kur..."

"...Setiba di Palintahan, setelah meninggalkan Majapahit, aku mendaki gunung Pawitra, dan mengunjungi rabut (tempat suci) di gunung/bukit Gajah Mungkur..."

Candi Kerajaan

Bujangga Manik, seorang Brahmana dari Sunda, dalam kunjungannya ke bukit Gajah Mungkur waktu itu, sangat mungkin bertemu dengan para Rsi yang tinggal di sana untuk mengurus bangunan-bangunan suci serta pertapaan mereka, karena di daerah bukit Gajah Mungkur terdapat kurang lebih sebelas bangunan suci. Jika Naskah Bujangga Manik disusun pada awal abad 16 (Noorduyn 1982 : 414), tentunya pengembaraannya keliling pulau Jawa terjadi sebelumnya, mungkin di akhir abad 15. Dan, pada saat itu, Bujangga Manik masih bisa menyaksikan adanya kegiatan keagamaan di bukit Gajah Mungkur pada khususnya, dan di gunung Penanggungan pada umumnya. 

SIMBOL TAPAK DARA (+) DI CANDI SHIWA, GUNUNG PAWITRA/PENANGGUNGAN

Di Candi Shiwa yang terletak di Gunung Pawitra/Penanggungan, terdapat simbol 'Tapak Dara' (+) yang merupakan simbol dasar atau bentuk sederhana dari 'Swastika' (卐 ataupun 卍), sebuah lambang religius paling tua yang dikenal manusia/simbol tertua di dunia. Disebut Tapak Dara (+) karena bentuknya menyerupai bekas jejak kaki burung Dara (merpati).

Candi Shiwa di Gunung Pawitra/Penanggungan

Simbol Tapak Dara (+) di Candi Shiwa

Simbol Tapak Dara (+) di Candi Shiwa

Tapak Dara (+) adalah lambang penyatuan 'Rwa Bhineda' (dualitas) dan keseimbangan yang saling melengkapi, menjadi kesatuan harmonis antara dua kata 'ang' (I) 'purusa/akasha/lingga' dan 'ah' (-) 'prakerti/pertiwi/yoni'. Di zaman moderen, Simbol Tapak Dara (+) masih bisa kita jumpai, simbol ini biasanya terdapat pada hiasan/motif pagar rumah (pagar tembok). Simbol Tapak Dara (+) digunakan agar terhindar dari malapetaka, untuk mendatangkan kesejahteraan, dan untuk kebahagiaan.

SEJARAH SANG DWI WARNA/BENDERA MERAH PUTIH

Merah Putih adalah warna bendera kebangsaan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Bendera nasional Indonesia ini berdesain sederhana dengan dua warna yang dibagi menjadi dua bagian secara mendatar (horizontal). Bendera merah putih memiliki makna filosofis. Merah berarti keberanian dan putih berarti kesucian. Merah melambangkan raga manusia, sedangkan putih melambangkan jiwa manusia. Keduanya saling melengkapi dan menyempurnakan jiwa dan raga manusia untuk membangun Indonesia.

Sang Dwi Warna/Bendera Merah Putih Berkibar di Puncak Ogal-Agil Gunung Arjuno

Jauh sebelum pengibaran bendera merah putih sebagai tanda kemerdekaan Indonesia, bendera merah putih sebenarnya sudah ada sejak masa klasik di Bhumi Nusantara. Berdasarkan sumber data tekstual (prasasti atau susastra), bendera Merah Putih ternyata pernah dikibarkan tentara Jayakatwang dari Kerajaan/Negara Glang Glang saat berperang melawan kekuasaan Kertanegara dari Singhasari (1222-1292). Peristiwa sejarah tersebut terberitakan dalam prasasti Kudadu (Lempeng IV verso), bertarikh 1216 Çaka/11 September 1294 M, yang menceritakan tentang perang antara Jayakatwang melawan Raden Wijaya.

Prasasti Kudadu memberitakan:
"..hana ta tunggulning çatru layu layu katon wetani haniru, bang lawan putih warnnanya, çakatonikang tunggal ika, irika ta yanpangdawut sanjata sang arddharaja.."

"..disaat bersamaan ada bendera musuh berkibar kibar di Timur haniru MERAH dan PUTIH warnanya dan seketika bubarlah pasukan sang arddharaja.."

Sabtu, 14 Oktober 2017

KEHANCURAN KOTA ROSAN

J.A.B. Wiselius, seorang kontroleur Jawa dan Madura, melaporkan temuannya berupa benteng kuno yang berada di lembah Wiselius kepada Residen Surabaya pada tanggal 08 Juli 1871, dengan nomor surat 8299. Menurut laporan J.A.B. Wiselius, ketika Waduk Prijetan masih berupa lembah, terdapat dinding tanah (benteng) yang terletak di sisi lembah dengan ketinggian 1-4 kaki.

Waduk Krekah/Prijetan Diresmikan Pada Tahun 1917

Situs ini sekarang menjadi Waduk Krekah atau Prijetan yang mulai dibangun pada tahun 1909, dan selesai serta diresmikan pada tahun 1917. Bangunan Waduk peninggalan Kolonial yang sudah berusia 100 tahun ini, memiliki 6 anak sungai, dengan luas 231 hektare serta mempunyai kapasitas awal 12 juta meter kubik. Hingga kini, Waduk yang terkenal akan cerita mistisnya ini masih berfungsi dengan baik.

Waduk Krekah/Prijetan yang Dibangun Megah dan Kokoh

Saat ini, di salah satu sisi Waduk ditemukan tangga dari batu, namun belum dapat diketahui secara pasti apakah ini yang dimaksud bagian dari benteng yang disebutkan oleh J.A.B. Wiselius. Lokasi temuan tangga dari batu ini secara administratif berada di Desa Mlati, Kecamatan Kedungpring, Kabupaten Lamongan.

Tangga Dari Batu di Salah Satu Sisi Waduk Krekah/Prijetan

Tangga Dari Batu di Sisi Lainnya Waduk Krekah/Prijetan

Tidak jauh dari Waduk Prijetan, tepatnya di sebelah Utara waduk (areal perkebunan jati dan tebu) banyak ditemukan pecahan keramik Cina dan tembikar. Lokasi temuan barang-barang pecah belah tersebut dikenal dengan nama situs Rosan, yang secara administratif terletak di Dusun Sumbergempol, Desa Mlati, Kecamatan Kedungpring, Kabupaten Lamongan. Kata ‘rosan’ sendiri berasal dari bahasa Jawa 'ros-rosan', yang memiliki arti ruas-ruas yang memisahkan antara ruas batang tebu yang satu dengan yang lainnya.

Pecahan keramik yang ditemukan di situs Rosan mayoritas (terbanyak) adalah keramik dari dinasti Song (abad 12-13 M), kemudian disusul oleh keramik dari dinasti Yuan dan dinasti Ming (abad 13-16 M), dan ditemukan juga keramik yang berasal dari abad ke 10-11 M. [Sumber: Laporan ekskavasi Puslitarkenas (Pusat Penelitian Arkeologi Nasional)]. Dari data tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa situs ini telah dihuni oleh manusia sejak abad ke 10 M, dan puncaknya pada abad ke 12-13 M.

Temuan benteng kuno yang berada di lembah Wiselius diduga kuat ada korelasinya dengan temuan fragmen keramik serta tembikar di situs Rosan. Dahulu, kota Rosan diduga merupakan sebuah kota yang ramai dan maju, karena disana banyak ditemukan barang impor (keramik), selain itu kota ini juga dikelilingi oleh benteng pertahanan. Entah faktor apa yang menyebabkan kota yang diduga sudah dihuni sejak abad 10 M ini mengalami kehancuran.

Di area Waduk Prijetan juga terdapat beberapa situs kuno, seperti makam putri Kediri dan makam Belanda. Menurut cerita tutur/folklore yang berkembang disana, keberadaan makam putri Kediri itu ada kaitannya dengan cerita pertempuran antara Kediri vs Lamongan, yang berlokasi di tempat yang sekarang menjadi bangunan Waduk. Singkat cerita, dahulu ada putri dari Kediri bersama rombongan yang datang ke Lamongan untuk melamar pangeran dari Lamongan. Menurut cerita, rombongan dari Kediri tersebut tiba dan dijemput tuan rumah (Lamongan) di Waduk Prijetan. Sayangnya, prosesi lamaran tersebut gagal akibat adanya penolakan dari pihak laki-laki. Karena pihak perempuan tidak terima, maka terjadilah pertempuran hebat antara Kediri vs Lamongan.

Dari peristiwa tersebut, akhirnya melahirkan sebuah tradisi dan pantangan di Lamongan. Tradisinya ialah, di Lamongan ada budaya perempuan yang melamar laki-laki. Sedangkan untuk pantangannya, laki-laki asal Lamongan dilarang menikah dengan perempuan asal Kediri. Karena mitosnya atau konon katanya, jika pantangan tersebut dilanggar bisa berakibat pada perceraian.

Makam Belanda (Tuan Bligoor atau Londo Ireng) 

Di lokasi Waduk Prijetan juga terdapat sebuah makam Belanda, warga setempat menyebutnya makam Tuan Bligoor atau makam Londo Ireng. Menurut warga, Tuan Bligoor dulunya merupakan seorang petugas kontrol di Waduk Prijetan. Beliau mengabdi hingga akhir hayatnya, dan dimakamkan di area Waduk. Pada nisan makamnya tertulis nama JF A Dligoor yang lahir (GEB = Geboren) pada tahun 1860, dan meninggal (OVERL = Overleyen) pada tahun 1930. Dalam dokumen mengenai pembangunan Waduk Prijetan, disebutkan ada 4 insinyur yang terlibat dalam merancang serta membangun Waduk ini, mereka adalah Tuan Birman, Tuan Delos, Tuan Trong, dan Tuan Dliger. Nama terakhir dari keempat insinyur tersebut ada kemiripan dengan nama di nisan makam, yakni Dliger dengan Dligoor. 

FOLKLOR CANE BUKTI AIRLANGGA DAN GARUḌAMUKHA BERJAYA DI BUMI JANGGALA

Cerita tutur merupakan salah satu bentuk kearifan lokal. Tradisi menuturkan peristiwa sejarah sudah lama diperkenalkan oleh leluhur kita seb...