Senin, 02 Maret 2020

RAJA-RAJA MAJAPAHIT DINASTI GIRINDRA (GIRINDRAWANGSA) BESERTA SILSILAHNYA

Sebuah Dinasti atau Wangsa atau Trah itu ada dan terlahir melalui proses panjang kesejarahan dari pendahulunya atau leluhurnya, demikian halnya dengan Dinasti raja-raja Majapahit. Dinasti raja-raja Majapahit adalah Rajasa (Rajasawangsa) atau dikenal pula dengan sebutan Dinasti Girindra (Girindrawangsa). Pemahaman kosmogoni Çiwa-Buddha menganggap suatu kerajaan sebagai perwujudan Gunung Mahameru tempat kediaman Bhatara Indra. Itulah sebabnya keluarga Majapahit menamakan diri mereka sebagai Girindrawangsa, yang berarti ‘Keluarga Gunung Indra’.

Pusat kerajaan Majapahit (di sekitar Mojokerto sekarang) dikelilingi daerah-daerah bawahan (mandala-mandala) yang meliputi delapan penjuru (lokapala), yaitu Kahuripan, Tumapel, Paguhan, Wengker, Daha, Lasem, Pajang, dan Kabalan. Sebagaimana pernah dikemukakan oleh Dr. Boechari, “While the kingdom is compared with Mount Meru and Indra’s heaven, the king is thought to be Indra on earth, and that the eight Lokapala are incorporated in his nature” (MIISI, V/1, 1973). Dua mandala utama, yaitu Kahuripan (Janggala, Jiwana) dan Daha (Kadiri, Panjalu), merupakan poros yang menyangga kestabilan sistem, dan hal ini sudah dibakukan sejak zaman raja Airlangga pada abad ke-11. Itulah sebabnya kombinasi Wilwatikta-Janggala-Kadiri (Majapahit-Kahuripan-Daha) banyak dijumpai dalam prasasti-prasasti.

Sebagai kepala pemerintahan, Raja atau Ratu Majapahit bergelar Bhatara Prabhu (Bhre Prabhu) atau Çrĩ Maharaja. Sedangkan untuk para anggota keluarga kerajaan diberi gelar Bhatara (Bhre) dari mandala tertentu, seperti Bhre Kahuripan, Bhre Daha, Bhre Tumapel, dan sebagainya. Jabatan untuk anggota keluarga kerajaan disesuaikan dengan gendernya, seperti gelar Bhre Tumapel, Bhre Paguhan dan Bhre Wengker, dijabat oleh pria. Sedangkan, gelar Bhre Lasem, Bhre Pajang dan Bhre Kabalan, jatah untuk wanita. Adapun untuk gelar Bhre Kahuripan dan Bhre Daha, sebagai daerah poros (axis region), boleh disandang pria maupun wanita, asalkan hubungan kerabatnya dekat dengan sang Prabhu. Sebagaimana ditegaskan oleh Prof. Bertram Johannes Otto Schrieke, “Kahuripan and Daha were the regions assigned to the most highly placed members of the Royal family” (Ruler and Realm in Early Java, 1957). Dan, jika anggota keluarga kerajaan cukup banyak, maka mandala-mandala akan diperluas sesuai dengan kebutuhan, seperti Bhre Mataram, Bhre Matahun, Bhre Wirabhumi, Bhre Pamotan, Bhre Keling, Bhre Pakembangan, Bhre Tanjungpura, Bhre Singhapura, Bhre Kembangjenar, Bhre Jagaraga, dan Bhre Pandansalas.

Dinasti Raja-Raja Majapahit merupakan keturunan langsung dari Ken Angrok atau Çrĩ Rangga Rajasa Bhatara Sang Amurwabhumi, yaitu pendiri sekaligus raja pertama Kerajaan Singhasari. Oleh karena itu, kerajaan Singhasari dengan Majapahit mempunyai hubungan yang sangat dekat. Menurut Pararaton, kerajaan Singhasari runtuh pada tahun 1197 Çaka/1275 M, ditandai dengan adanya dua peristiwa penting, yakni Peperangan Tumapel atau Pemberontakan raja Jayakatwang dari kerajaan Glaŋ-Glaŋ Bhũmi Wurawãn, dan wafatnya Bhatara Çiwa-Buddha/Çrĩ Kertanagara (raja terakhir Singhasari). Sedangkan versi Nãgarakṛtãgama, Bhatara Çiwa-Buddha/Çrĩ Kertanagara wafat pada Tahun 1214 Çaka/1292 M. Setelah runtuhnya kerajaan Singhasari, kemudian munculah era baru, yaitu berdirinya Kerajaan Majapahit pada tahun 1216 Çaka/1294 M. Majapahit didirikan oleh Raden Wijaya/Çrĩ Kṛtarãjasa Jayawarddhana/Narāryya Sanggramawijaya, sekaligus sebagai raja Majapahit pertama (1294-1309 M). 

Kerajaan Majapahit merupakan kelanjutan dari Kerajaan Singhasari. Menurut Pararaton, Raden Wijaya merupakan putra dari Mahisa Campaka, Ratu Anggabhaya Singhasari yang bergelar abhiseka Bhatãra Narasinga. Mahisa Campaka adalah anak dari Mahisa Wong Ateleng. Dan, Mahisa Wong Ateleng merupakan anak Ken Angrok dengan Ken Dedes. Sedangkan versi Nãgarakṛtãgama, Dyah Wijaya (Raden Wijaya) merupakan cucu dari Bhatara Narasingamurti, dan ayah Raden Wijaya adalah Dyah Lembu Tal. Terkait dengan silsilah Raden Wijaya tersebut, Nãgarakṛtãgama menjelaskan bahwa pernikahan Raden Wijaya dengan putri-putri Çrĩ Kertanagara dalam hubungan kekeluargaan yang sangat dekat, yakni keturunan tingkat ketiga [Raden Wijaya sebagai menantu Çrĩ Kertanagara, terberitakan dalam Prasasti Kudadu (1216 Çaka/1294 M), Prasasti Sukamṛta (1218 Çaka/1296 M), Prasasti Balawi (1227 Çaka/1305 M), Kakawin Nãgarakṛtãgama/Deçawarṇana (1287 Çaka/1365 M), dan Kitab Pararaton/Naskah Katuturanira (1535 Çaka/1613 M)].

Tingkatan keturunan (keturunan tingkat ketiga) tersebut dihitung mulai dari Bhatara Wisnuwardhana (Narāryya Sminiŋrāt) yang segenerasi dengan Bhatara Narasinghamurti (Narāryya Waning Hyun), [Bhatara Wisnu (Narāryya Sminiŋrāt) bersepupu (berarti keluarga dekat) dengan Bhatara Narasinghamurti (kakek Raden Wijaya)]. Lalu, Çrĩ Kertanagara segenerasi dengan Dyah Lembu Tal (ayah Raden Wijaya). Dan, empat putri Çrĩ Kertanagara segenerasi dengan Raden Wijaya/Çrĩ Kṛtarãjasa Jayawarddhana/Narāryya Sanggramawijaya. Silsilah raja-raja Singhasari versi Nãgarakṛtãgama adalah sebagai berikut: Rangga Rajasa (Ken Angrok), yang merupakan cikal bakal para raja agung yang akan memerintah pulau Jawa, setelah wafat kemudian digantikan oleh putranya, yakni Bhatara Anusapati. Selanjutnya Bhatara Anusapati digantikan oleh putranya bernama Bhatara Wisnuwardhana. Lalu setelah Bhatara Wisnuwardhana, kemudian digantikan oleh putranya, yaitu Çrĩ Kertanagara. 

Dewata Nawa Sanga Dalam Surya Majapahit, Lambang Kerajaan Majapahit 

Pada tahun 1257 Çaka/1335 Masehi, Raden Wijaya/Çrĩ Kṛtarãjasa Jayawarddhana wafat (versi Pararaton). Sedangkan versi Nãgarakṛtãgama pupuh 47 bait 3, Raden Wijaya wafat pada tahun 1231 Çaka/1309 M. Lebih betul versi Nãgarakṛtãgama. Sepeninggal Raden Wijaya, putranya dari istri selir Dara Petak (versi Pararaton) ditasbihkan menjadi raja Majapahit, yaitu Bhre Daha II/Raden Kalagemet/Bhatara Jayanagara pada tahun 1231 Çaka/1309 M, raja Majapahit ke-2 (1309-1328 M). Sedangkan versi Nãgarakṛtãgama, Jayanagara merupakan putera Raden Wijaya dengan Indreswari. Jayanagara memerintah Majapahit cukup lama, yakni selama 19 tahun. Hingga akhirnya pada tahun 1250 Çaka/1328 M, beliau wafat dibunuh oleh Tabib Ra Tañca.

Selanjutnya, Jayanagara digantikan oleh adiknya (beda ibu), yakni Bhreng Kahuripan II/Dyaḥ Gĩtãrjjã Çrĩ Tribhuwanattuṅgadewĩ Jayawiṣṇuwarddanĩ, raja Majapahit ke-3 (1328-1350 M). Versi Nãgarakṛtãgama, Rani Jiwana Tribhuwana Wijayatunggadewi merupakan anak Raden Wijaya dengan Gayatri Rajapatni (putri bungsu Bhatara Çiwa-Buddha/Çrĩ Kertanagara), dan beliau mendaki tahta Wilwatikta pada tahun 1251 Çaka/1329 M. Çrĩ Tribhuwanattuṅgadewĩ Jayawiṣṇuwarddanĩ memerintah Majapahit selama 22 tahun. Dalam pernikahannya dengan Raden Cakradhara Kṛtawardhana/Bhre Tumapel I, Çrĩ Tribhuwanottuṅgadewĩ Jayawiṣṇuwarddanĩ dikaruniai tiga orang putra, salah satunya adalah Bhra Hyang Wekasing Sukha I/Bhre Kahuripan III/Çrĩ Rãjasanagara/Hayam Wuruk, raja Majapahit ke-4 (1350-1389 M). 

Menurut Nãgarakṛtãgama, Hayam Wuruk lahir pada tahun 1256 Çaka/1334 M. Dan, diceritakan pula selama beliau dalam kandungan di Kahuripan, telah tampak tanda-tanda keluhurannya, yakni berupa gempa bumi, kepul asap, hujan abu, gemuruh halilintar menyambar-nyambar, dan gunung meletus. Adanya peristiwa bencana alam pada tahun kelahiran Hayam Wuruk (1256 Çaka/1334 M) kemudian ditafsirkan sebagai pertanda bahwa akan terjadi perubahan besar di Majapahit. Peristiwa bencana alam tersebut tercatat dalam Pararaton: "..Tumuli guntur Pabañupindah i Çaka 1256.." (gunung meletus dan banjir bandang/banjir lahar di tahun Çaka 1256/1334 Masehi). Dan, juga tercatat dalam Nãgarakṛtãgama: "..hudan hawu..guntur ttaɳ himawan ri kampud.." (hujan abu..gemuruh letusan gunung kelud), riɳ çaka rttu çarena (1256 Çaka/1334 Masehi). 

Hayam Wuruk memerintah Majapahit sangat lama, yakni selama 39 tahun. Dalam masa pemerintahan yang panjang ini, Hayam Wuruk didampingi oleh Mahapatih Amangkubhumi Majapahit atau Rakryan Patih Majapahit, yakni Pu Gajah Mada. Pada saat itulah kerajaan Majapahit mencapai masa keemasannya atau kejayaannya. Setelah Hayam Wuruk wafat pada tahun 1389 M, yang ditunjuk sebagai pengganti adalah menantunya, yaitu Bhre Mataram I/Bhra Hyang Wiçesa/Raden Gagak Sali/Aji Wikramawarddhana, raja Majapahit ke-5. (1389-1400 M). Aji Wikramawarddhana merupakan suami dari Bhatara-Stri/Bhre Kabalan I/Bhre Lasem III/Sang Ahayu Rãjasawarddhanĩ/Kusumawarddhanĩ, raja Majapahit ke-6. (1400-1429 M). Menurut Pararaton, pada tahun 1400 M, Raden Gagak Sali/Aji Wikramawarddhana memutuskan untuk menjadi Bhagawan. Kemudian istrinya, Rãjasawarddhanĩ/Kusumawarddhanĩ, menggantikannya sebagai raja Majapahit. 

Sosok Diduga Mahapatih Amangkubhumi Majapahit Pu Gajah Mada 

Rãjasawarddhanĩ/Kusumawarddhanĩ merupakan putri Hayam Wuruk dengan Pãduka Çorĩ (Parameçwarĩ Çrĩ Sudewĩ). Hayam Wuruk juga mempunyai seorang putra laki-laki dari istri selir, yakni Bhre Wirabhumi II/Aji Rajanatha. Diakuinya Raden Gagak Sali/Aji Wikramawarddhana sebagai raja Majapahit membuat putra Hayam Wuruk dari istri selir yang bernama Aji Rajanatha/Bhre Wirabhumi II tidak terima dan melakukan perlawanan. Maka terjadilah perseteruan besar dikalangan sesama anggota istana yang dikenal dengan nama Paregreg (peristiwa huru-hara) pada tahun 1404 M hingga tahun 1406 M. Pada tahun 1406 M, terjadi peristiwa Paregreg Agung, yang ditandai dengan wafatnya Bhre Wirabhumi II/Aji Rajanatha yang tewas dibunuh kemudian kepalanya dipenggal oleh Raden Gajah, gelarnya Ratu Anggabhaya, Bhra Narapati, kemudian kepalanya dibawa ke Majapahit (keraton Barat). Pada masa itulah, Majapahit mulai mengalami kemerosotan. 

Setelah masa pemerintahan Rãjasawarddhanĩ/Kusumawarddhanĩ berakhir, selanjutnya tahta kerajaan Majapahit dipegang oleh menantunya, yaitu Bhre Koripan V/Bhra Hyang Parameçwara/Aji Ratna Pangkaja, raja Majapahit ke-7 (1429-1437 M). Aji Ratna Pangkaja merupakan suami dari Bhre Daha V/Bhra Prabhu Stri Dewi Suhita, raja Majapahit ke-8 (1437-1447 M). Suhita merupakan anak ke-2 dari perkawinan Aji Wikramawarddhana dengan Rãjasawarddhanĩ/Kusumawarddhanĩ. Pernikahan Prabhu Stri Dewi Suhita dengan Aji Ratna Pangkaja tidak dikaruniai keturunan, maka hak atas tahta kerajaan Majapahit kemudian diberikan kepada adik kandung Suhita, yakni Bhre Tumapel III/Çrĩ Kṛtawijaya, raja Majapahit ke-9 (1447-1451 M). Çrĩ Kṛtawijaya merupakan anak bungsu Aji Wikramawarddhana dengan Rãjasawarddhanĩ/Kusumawarddhanĩ. Setelah masa pemerintahan Çrĩ Kṛtawijaya berakhir, selanjutnya Majapahit diperintah oleh Sang Sinagara Dyah Wijayakumãra/Bhre Pamotan II/Bhre Keling II/Bhre Kahuripan VI/Çrĩ Rãjaçawarddhana, raja Majapahit ke-10 (1451-1453 M). 

→ 3 tahun tidak ada raja (versi Pararaton) 

Setelah 3 tahun terjadi kekosongan kekuasaan, kemudian Bhre Wengker III/Dyaḥ Suryyawikrama Girĩçawarddhana menjadi raja Majapahit ke-11 (1456-1466 M), beliau bergelar abhiseka Bhra Hyang Purwawiçesa. Setelah wafatnya Bhra Hyang Purwawiçesa kerajaan Majapahit dipimpin oleh putranya, yakni Bhre Pandan Salas III/Bhre Tumapel IV/Dyaḥ Suraprabhawa Singhawikramawarddhana, raja Majapahit ke-12 (1466-1468 M) [versi Pararaton]. Sedangkan versi prasasti Pamintihan, prasasti ini dikeluarkan oleh raja Majapahit bernama Dyaḥ Suraprabhawa Singhawikramawarddhana pada tahun 1395 Çaka/1473 M. Dari prasasti itu diketahui bahwa raja Dyaḥ Suraprabhāwa dikatakan sebagai “Penguasa tunggal di Bhūmi Jawa yang terdiri dari Janggala dan Kadiri”. Beliau diperkirakan sebagai Bhre Pandan Salas, sehingga berdasarkan identifikasi itu pendapat mengenai masa pemerintahan Dyaḥ Suraprabhawa Singhawikramawarddhana hanya dua tahun dapat dibantah, kemungkinan masa pemerintahannya hingga 1474 M. Setelah masa pemerintahan Dyaḥ Suraprabhawa Singhawikramawarddhana berakhir, kemudian tahta kerajaan Majapahit dipegang oleh Bhre Kertabhumi, raja Majapahit ke-13 (1468/1474-1478 M). Bhre Kertabhumi merupakan anak bungsu Sang Sinagara Dyah Wijayakumãra/Çrĩ Rãjaçawarddhana, dan juga keponakan Dyaḥ Suraprabhawa Singhawikramawarddhana. Pada tahun 1400 Çaka/1478 M, terjadi serangan dari Girindrawarddhana Dyah Ranawijaya bersama tentara Kadiri terhadap Bhre Kertabhumi. Akibat serangan itu, Bhre Kertabhumi wafat, dan tahta kerajaan Majapahit akhirnya direbut oleh Girindrawarddhana Dyah Ranawijaya, raja Majapahit ke-14 (1478-1519 M). Pada masa pemerintahan Girindrawarddhana Dyah Ranawijaya inilah, Majapahit mengalami keruntuhan antara tahun 1519-1525 M. 

FOLKLOR CANE BUKTI AIRLANGGA DAN GARUḌAMUKHA BERJAYA DI BUMI JANGGALA

Cerita tutur merupakan salah satu bentuk kearifan lokal. Tradisi menuturkan peristiwa sejarah sudah lama diperkenalkan oleh leluhur kita seb...