Senin, 07 Mei 2018

CANDI SELOKELIR

Candi Selokelir terletak di lereng sisi Barat bukit Sarahklopo, salah satu dari delapan puncak perwara (pengawal) yang mengelilingi puncak utama (puncak Pawitra), di kawasan gunung Pawitra (Penanggungan). Untuk mencapai kelokasi candi, direkomendasikan melalui Desa Kedungudi, Trawas - Mojokerto. Pendakian via Kedungudi menuju candi Selokelir tergolong singkat, karena hanya memakan waktu kurang lebih satu jam perjalanan. 

Candi Selokelir 

Candi yang berbentuk punden berundak ini, oleh masyarakat setempat diberi nama Selokelir yang berasal dari bahasa Jawa: 'Selo' yang bermakna Batu; dan 'Kelir' yang mempunyai arti tirai kain putih untuk menangkap bayangan wayang kulit. Menurut warga sekitar, di candi Selokelir setiap hari Kamis malam Jumat selalu terdengar bunyi suara gamelan wayang, itulah sebabnya mengapa candi ini diberi nama Selokelir.

Panorama Alam di Candi Selokelir 

Aneka ragam relief juga menghiasi dinding candi, salah satunya adalah relief sosok ber-tekes. Tokoh tersebut biasanya terdapat pada relief cerita Panji, ciri-cirinya dapat dilihat dari bentuk penutup kepala tokoh-tokohnya yang khas --disebut tekes-- dan jalinan rambut yang disebut supit urang. Menariknya, di candi ini juga pernah ditemukan arca tokoh ber-tekes. Sayangnya, arca tersebut oleh Van Rommont diboyong, dan dibawa ke ITB. Hingga saat ini, arca dari gunung Penanggungan tersebut masih tersimpan di perpustakaan ITB.

Relief Sosok Ber-Tekes di Dinding Candi Selokelir 

Arca Tokoh Ber-Tekes Asal Candi Selokelir, Sekarang Disimpan di Perpustakaan ITB

Itulah sedikit gambaran mengenai candi Selokelir, sebuah candi tempat peribadatan kaum Rsi yang dibangun megah dilereng gunung suci (tempat para Dewa) hasil pemindahan dari puncak Sang Hyang Mahameru yang berasal dari Jambudwipa (India).

"I believe there is no one possessed of more information respecting Java than myself..."
"Saya yakin tidak ada orang yang memiliki informasi mengenai Jawa sebanyak yang saya miliki..." (Sir Thomas Stamford Raffles). 

Rabu, 25 April 2018

KAMPUNG KUNO BLAWI, KAMPUNG ASAL PRASASTI BALAWI 1227 ÇAKA/1305 M

Prasasti Balawi 1227 Çaka/1305 M dikeluarkan oleh raja Majapahit yang pertama, yakni Çrĩ Kṛtarãjasa Jayawarddhana atau Raden Wijaya. Prasasti yang dibubuhi tanda senjata berupa trisula (tinaṇḍa pãlaga triçũlamukha), senjata tombak berujung mata tiga, ini berisi tentang pengukuhan desa Balawi sebagai daerah perdikan atau sima swatantra atas permohonan sang Wirapati. Keswatantraan Balawi sebenarnya telah diberikan sejak masa pemerintahan Çri Harsawijaya (Raja di Bhumi Janggala), namun belum dikukuhkan dengan prasasti. Oleh karena itu, Wirapati memohon kepada Maharaja Narāryya Sanggramawijaya (Raden Wijaya) untuk mengukuhkan keswatantraan tanah Balawi dalam bentuk prasasti (lempeng IV recto baris ke 1-2 dan lempeng VI recto baris ke 5).

Gapura Dusun Blawi, Desa Blawirejo, Kecamatan Kedungpring, Kabupaten Lamongan

Lempeng IV recto baris ke 1-2 memberitakan:
1. "..dyakna kaswatantrā nira śri harsawijaya kirtya śri maharājā riŋ loka. Maŋkana rasani hatur saŋ wirapati ri śri maharājā. Pinirĕsĕpakĕn de rakryān apatih. An sa.." , "..tentang keswatantraan-nya Çri Harsawijaya. Mulialah Çri Maharaja di dunia. Demikianlah isi permohonan Sang Wirapati kepada Çri Maharaja (narāryya Sangramawijaya). diberitahukan kepada rakryyan apatih. Dengan.. "

2. "..ksat darsanā riŋ loka kirti paduka śri maharājāngasthityakĕn sima tānpa praśasti.." , "..demikian terlihatlah di dunia kemuliaan paduka Çri Maharaja yang meneguhkan tanah sima tanpa prasasti.."

Lempeng VI recto baris ke 5 memberitakan:
5. "..maka rasāmratisubaddhākne sakramanikiŋ kawnańakna kanaŋ sima riŋ balawi. suknirāji nini pwa śri hārsawijaya.." , "..isinnya yaitu pengukuhan hak-hak terhadap tanah sima di Balawi. sejak pemerintahan Çri Harsawijaya.."

Prasasti Balawi di Museum Nasional Jakarta

Dyah Lembu Tal atau Çri Harsawijaya adalah ayah dari Raden Wijaya, seperti yang terberitakan dalam Kakawin Nãgarakṛtãgama atau Deçawarṇana pupuh 47 bait 1, "..dyah lmbu tal sira maputra ri saɳ narendra.." , "..Dyah Lembu Tal itulah bapak Baginda Nata..". Nama Çri Harsawijaya kemudian menjadi nama Dyah Wijaya atau Raden Wijaya, jadi Raden Wijaya punya nama yang 'Nunggak Semi' dengan ayahnya.

Prasasti Mula-Malurung (1177 Çaka/1255 M) lempeng VI verso baris ke 6 memberitakan bahwa Çri Harsawijaya, kapernah pahulunan atau keponakan dari Narāryya Sminiŋrāt, ditempatkan di singgasana ratna di bhūmi Janggala..". Sedangkan, menurut kakawin Nãgarakṛtãgama Pupuh 46 bait 2, Dyah Lembu Tal adalah keponakan dari Narāryya Sminiŋrāt. Jadi, dapat disimpulkan bahwa Çri Harsawijaya dan Dyah Lembu Tal sebenarnya merupakan orang yang sama. Posisi Çri Harsawijaya sebagai Raja di Bhūmi Janggala tentunya sesuai dengan letak Desa Balawi (Blawirejo, Kedungpring, Lamongan), yang mana wilayah tersebut (wilayah Lamongan) merupakan wilayah Bhūmi Janggala.

Tanda Senjata Berupa Trisula, Senjata Tombak Berujung Mata Tiga

Prasasti yang terbuat dari lempeng perunggu (tamra prasasti) ini, juga menyebutkan bahwa Raden Wijaya merupakan suami dari putri-putri Çrĩ Kṛtanagarā (Bhatara Çiwabuddha) atau menantu dari raja Kertanagara, raja terakhir kerajaan Singhasari (Çrĩ krĕttanãgara rãjãdhinatha suputrika).

Prasasti yang beraksara dan berbahasa Jawa Kuna ini, diduga kuat berasal dari Dusun Blawi, Desa Blawirejo, Kecamatan Kedungpring, Kabupaten Lamongan. Dugaan itu muncul dari adanya kesamaan/kemiripan toponim, baik dari desa yang mendapatkan anugrah sima, maupun dari desa-desa/wanua-wanua yang berbatasan dengan tanah perdikan Balawi (toponim dari wanua tepi siring), jika dilihat dari posisi desa Blawirejo saat ini.

Demikianlah nama-nama desa/wanua perbatasan perdikan Balawi yang tersebut di prasasti Balawi [sumber: Muhammad Yamin, Tatanegara Majapahit - Parwa I, hlm. 258] :

[Alih Aksara]
"..kunêŋ parimananikaŋ lmaḥ sima riŋ balawi . riŋ pũrwwa hasiḍaktan lawan malaṅe . riṅ agneya asiḍaktan lawan magaraŋ . riŋ dakṣiṇa asiḍaktan lawan mabuwur . riŋ nairiti asiḍaktan lãwan manaṇḍe . riŋ paçeima asiḍaktan lãwan malaṅi . riŋ bayabya asiḍaktan lãwan mule . riŋ uttara asiḍaktan lawan watuputiḥ . riŋ ṅaiçanya asiḍaktan lã[wan] watuputiḥ samaṅkana parimananikaŋ lmaḥ sima riŋ balawi.."

[Alih Bahasa] 
"..maka batas tanah perdikan di balawi . di timur bersebelahan dengan malange (mlangean/desa sidomlangean) . di tenggara bersebelahan dengan magarang (dusun megarang, desa nglebur) . di selatan bersebelahan dengan mabuwur (?) . di barat daya bersebelahan dengan manande (dusun mekande, desa mekanderejo) . di barat bersebelahan dengan malangi (?) . di barat laut bersebelahan dengan mule (dusun malo, desa sukomalo) . di utara bersebelahan dengan watuputih (gunung kendeng/kapur) . di timur laut bersebelahan de[ngan] watu putih (gunung kendeng/kapur) demikianlah batas tanah perdikan di balawi.."

Gapura Dusun Megarang (Magarang), Perbatasan Sebelah Tenggara Dengan Desa Blawi(Rejo) 

Meskipun sebagian besar desa/wanua yang tersebut di prasasti sudah mengalami perubahan nama, seperti dari malange menjadi mlangean/sidomlangean, manande menjadi mekande/mekanderejo, dan mule menjadi malo/sukomalo, akan tetapi secara toponimi perubahan ini masih bisa diterima. Sedangkan untuk toponim magarang dan balawi tidak mengalami banyak perubahan, hanya saja sekarang kedua wanua/desa tersebut berubah menjadi dusun (Dusun Megarang - Desa Nglebur, dan Dusun Blawi - Desa Blawirejo).

Gapura Dusun Malo (Mule), Perbatasan Sebelah Barat Laut Dengan Desa Blawi(Rejo) 

Dan, untuk watu putih sendiri patut diduga merujuk kepada gunung kendeng/kapur (gunung pegat). Di Lamongan pada masa Hindia Belanda (tahun 1824-1870, 1891-1906, 1911, dan 1913), Gunung Kendeng pernah menjadi nama dari sebuah wilayah administrasi kepemerintahan, yakni Kawedanan [Sumber: Pemerintah Kabupaten Daerah Tingkat II Lamongan, Lamongan Memayu Raharjaning Praja, hlm. 38-42]. 

Berdiskusi Bersama Perangkat Desa Blawirejo di Kantor Desa Blawirejo Untuk Menggali Informasi

Monggo dibahas secara lebih mendalam di acara Jagong Budaya dalam rangkaian kegiatan TOURING SEJARAH LAMONGAN KE-V "Jelajah Situs Sejarah Lamongan (Masa Klasik - Kolonial)" tanggal 12 Mei 2018, DALAM RANGKA MEMPERINGATI HARI JADI LAMONGAN KE-449. Dan, untuk informasi tambahan, dalam pelaksanaan kegiatan Touring Sejarah Lamongan Ke-V, tanah perdikan Balawi (desa Blawirejo) juga akan dikunjungi sekaligus sebagai tempat untuk ishoma. 

Rabu, 14 Maret 2018

JAWI TEMPLE (JAJAWA/JAWAJAWA)

Jawi Temple is situated on the foot of Welirang Mountain, exactly in Candi Wates Village, Prigen Underdistrict, Pasuruan Regency. Verse 56 of Nãgarakṛtãgama mentions that Jawi Temple was built by the last king of Singhasari Kingdom, Çrĩ Kertanegara (Bhatara Çiwabuddha), as a worship shrine for Shiva-Buddhist followers, a religious sect that combines the teachings of Shiva (Hindu) and Buddhist. While being a worship shrine, Jawi Temple is also a place where Kertanegara ashes are kept.

Jawi Temple 

This temple was probably built in two period of construction. Verse 57 of Nãgarakṛtãgama mentions that in the Javanese year of 1253 (Çaka)/1331 AD (chronogram: Fire Shooting Day), Jawi Temple was struck by lighting. In the incident, the statue of Maha Aksobhya disappeared. The disappearance of the statue had made King of Majapahit Kingdom, Hayam Wuruk (Çrĩ Rãjasanagara), sad when the king visited the temple. A year after the incident, Jawi Temple was rebuilt.

Jajawa Temple 

KAKAWIN NÃGARAKṚTÃGAMA/DEÇAWARṆANA 

PUPUH 55
(Bait 3) "rahina muwah ri tambak i rabut wayuha ri balanak linakwan alaris, anuju ri pandakan ri bhanarāngin amêgil i datên nire padamayan, maluy anidul manulwan umare jajawa ri suku san hyan adri kumukus, marêk i bhatāra dharmma saha puspa pada padaha garjjita wwan umulat."

Terjemahan:
"Siang harinya kembali melakukan perjalanan lewat Tambak, rabut Wayuha, dan Balanak. Kemudian menuju Pandakan, Bhanarangin, beliau (Raja Hayam Wuruk) hendak menginap dan mendatangi Padamayan, mengikuti pergi ke Selatan, kemudian ke arah Barat mendatangi JAJAWA (Candi Jawi), di kaki gunung Kumukus (Welirang), mendatangi candi Sang Batara, melakukan upacara tabur bunga dengan diiringi gendang kecil, menggembirakan orang yang melihat."

Jawajawa Temple

PUPUH 56
(Bait 1) "Ndan tinkah nikanan sudharmma rinusāna rakwa karênö, kīrtti Çri Krtanāgara prabhu yuyut nareswara sira, têkwan rakwa sirānadistita sarīra tan hana waneh, hetunyan dwaya saiwa boddha san amūja nūni satata."

Terjemahan:
"Adapun keindahan candi makam itu terdengar sejak dahulu, yang mendirikan sang raja Kertanagara (Singhasari), kakek buyut sang Baginda (Raja Hayam Wuruk). Dan lagi, seperti yang diketahui, hanya jasad beliau (Raja Kertanagara) yang dikebumikan disitu, begitulah, pengikut Siwa-Buddha, memuja candi itu sedari dulu dengan cara yang benar."

(Bait 2) "Cihnan candi ri sor kasaiwan apucak kaboddhan i ruhur, mwan ro jro siwawimbha sobhita halêp nirāparamitā, aksobhya pratime ruhur makuta tan hanoliyanika, sanke siddhi niran winasa tuhu sūnyatwa parama."

Terjemahan:
"Ciri-ciri candinya adalah bagian bawahnya bersifat Siwa, dan Buddha di bagian puncak tertingginya, adapun tanda kedua, di dalam terdapat arca Siwa yang cemerlang, pesona tak terperikan, (sedangkan) arca Aksobhya di bagian atasnya bermahkota, tiada tara indahnya, yang karena suci dan kesempurnaannya, sesungguhnya yang utama dan sejati telah kembali ke Surgaloka."

PUPUH 57
(Bait 4) "Pilih anala çararkka rakwa çakabde hyan arccan hilaɳ, ri hilanira sinamber iɳ bajraghosa sucandi dalm, pawarawarahiraɳ mahaçrawakawas/ ndatan ançaya, pisaninu waluya darmma tkwan kadohan huwus."

Terjemahan:
"Tahun Saka api memanah hari (1253) itu hilangnya arca, Waktu hilangnya halilintar menyambar ke dalam candi, Benarlah kabaran pendeta besar bebas dari prasangka, Bagaimana membangun kembali candi tua terbengkalai?." 

Kamis, 04 Januari 2018

KONSEP TRI MANDALA PADA KOMPLEK PEMAKAMAN SUNAN SENDANG DUWUR

Bentuk bangunan pada komplek pemakaman Sunan Sendang Duwur di Paciran - Lamongan, bisa dibilang masih lumayan utuh dari konsep Tri Mandala (Tri = Tiga dan Mandala = Wilayah/Daerah).

Gapura Bentar atau Candi Bentar 

Konsep Tri Mandala terdiri dari Tiga Ruang (Tiga Gapura). Ruang pertama disebut Kanistama/Nista Mandala (area/zona luar), di ruangan ini biasa dilakukan kegiatan fisik yang bersifat "kasar" seperti membuat tempat sesajen atau persiapan upacara keagamaan dan lain-lainnya. Mandala yang kedua adalah Madhyama/Madhya Mandala (area tengah), ruangan ini diperuntukkan untuk kegiatan seni seperti menari, memainkan gamelan, berkidung/bermocopat, dan lain sebagainya. Sedangkan untuk ruang yang terakhir disebut dengan Uttama Mandala (area utama), yaitu suatu ruangan yang khusus untuk melakukan kegiatan sembahyang/ibadah. 

Gapura Ruang Uttama Mandala Berupa Gapura Paduraksa Bersayap 

Setiap memasuki kemasing-masing ruang mandala akan melalui gapura yang bentuknya berbeda-beda. Gapura untuk masuk ke Uttama Mandala berupa Candi Kurung/Gapura Paduraksa (Melengkung tertutup menjadi satu tangkaian). Di komplek pemakaman Sunan Sendang Duwur, gapura untuk memasuki ruang Uttama Mandala berupa Candi Kurung Paduraksa Bersayap, sama seperti yang terdapat di Pura Luhur Uluwatu Bali. Sedangkan gapura untuk masuk ke Kanistama/Nista Mandala berupa Gapura Bentar atau Candi Bentar.

Bagian Belakang Gapura Paduraksa Bersayap 

Selasa, 02 Januari 2018

KAMPUNG KUNO CANE, KAMPUNG ASAL PRASASTI CANE 943 ÇAKA/1021 M

Prasasti Cane (koleksi Museum Nasional) diyakini dan diduga kuat berasal dari Dusun Cane, Desa Candisari, Kecamatan Sambeng, Kabupaten Lamongan. Dugaan ini diperkuat dari toponim Cane yang hanya ditemukan di Lamongan. Nama yang identik dengan roti khas dari India (roti cane/canai) ini memang tidak dijumpai di tempat-tempat lain di seluruh Jawa Timur, bahkan mungkin di seluruh Jawa. Jadi, nama Desa/Dusun Cane itu hanya terdapat di Lamongan. Selain toponim, dugaan itu juga didukung dengan bukti sebaran prasasti peninggalan raja Airlangga yang banyak ditemukan di wilayah sekitaran Cane (wilayah Lamongan Selatan). Bukan hanya itu, dari keterangan warga Cane yang saya jumpai, mereka mengaku bahwasanya wilayah Cane pada zaman dulu merupakan benteng kerajaan Airlangga.

Cerita tutur itu juga disertai dengan bukti jejak bata kuno berukuran besar yang menurut warga setempat diyakini sebagai bekas reruntuhan benteng kerajaan Airlangga. Maka tidak heran jika di Dusun yang mempunyai nama unik dan langka ini, banyak dihiasi papan keterangan mengenai raja Airlangga. Disana, nama putra Airlangga, Mapañji Garasakan, juga diabadikan menjadi nama sebuah jalan.

Papan Keterangan dan Plang Nama Jalan di Dusun Cane

Prasasti Cane (943 Çaka/1021 M) dikeluarkan oleh raja Airlangga dengan gelar abhiseka Çri Mahãrãja Rakai Halu Çri Lokeçwara Dharmmawaṅça Airlaṅga Anãntawikramottuṅgadewa, dengan Çrĩ Sanggrãmawijaya Dharmmaprasãdottunggadewi (anak perempuan Airlangga dengan permaisuri) sebagai Rakryãn Mahãmantrĩ i Hino untuk pertama kalinya.

Prasasti Cane merupakan prasasti pertama pada masa pemerintahan raja Airlangga. Dan, jika dilihat pada bagian Sambandha-nya atau bagian alasan prasasti tersebut dikeluarkan oleh raja, prasasti Cane masuk pada fase konsolidasi. Fase dimana pemberian status sima pada Desa Cane dikarenakan rasa simpati raja kepada penduduk Desa Cane yang berjuang di garis depan dengan menjadikan desanya sebagai benteng pertahanan. Pada masa fase konsolidasi biasanya isi prasasti menjelaskan pemberian anugerah sima kepada desa tertentu karena jasa mereka dalam membantu raja pada saat peperangan.

Papan Selamat Datang di Dusun Cane

Prasasti Cane menyebut lokasi penting, yakni Keraton Airlangga di Wwatan Mas: 
"..Çrĩ Mahãrãja ri maniratna singhasana makadatwan ri wwatan mas..."
"..Sri Maharaja di singgasana permata berkedaton/berkeraton di Wwatan Mas..".


Selain itu, prasasti Cane juga menyebut adanya bangsa asing yang dikenai pajak (wārggā kilalān):
"..i kanaŋ wārggā kilalān kliŋ āryyā sińhala paņdikira dravida campa kmir rĕmĕn..".
"..adalah wargga kilalan (warga yang dikenai pajak khusus) yaitu klin (keling) aryya (arya) sinhala (Srilangka) pandikira (Pandikira dari India) drawida (salah satu suku dari India) campa (Vietnam) kmir (Khmer) remen (atau Mon adalah salah satu suku dari Burma)..". 

Adanya penyebutan bangsa asing di prasasti Cane, menunjukkan bahwa masyarakat Cane pada masa itu telah menjalin hubungan (ekonomi, sosial, budaya) dengan bangsa dari Asia Selatan maupun Asia Tenggara. 

Sabtu, 30 Desember 2017

BEGANDRING BARENG PAK WARSIM, PERAWAT CUNGKUP BEKAS PRASASTI PAMWATAN/PAMOTAN 964 ÇAKA/1042 M

Prasasti Pamwatan/Pamotan 964 Çaka/1042 M (19 Desember 1042 M) secara administrasi terletak di  Desa Pamotan, Kecamatan Sambeng, Kabupaten Lamongan. Prasasti berbahan andesit dengan aksara dan bahasa Jawa Kuna ini dikeluarkan oleh Raja Airlangga dengan gelar abhiseka Çri Mahãrãja Rakai Halu Çri Lokeçwara Dharmmawaṅça Airlaṅga Anãntawikramottuṅgadewa dengan Çrĩ Samarawijaya sebagai Rakryãn Mahãmantrĩ i Hino-nya (Damais 1955 : 183). 

Pada sisi depan (recto) di bagian atas prasasti terdapat tulisan dalam aksara Kwadrat yang terbaca 'dahaṇa'. Sayangnya, prasasti yang isinya masih belum tuntas dibaca itu, karena bagian bawah prasasti masih terpendam tanah dan diduga masih ada aksaranya, hilang dicuri pada bulan September 2003 (sumber: Radar Bojonegoro). Hilangnya prasasti yang oleh warga sekitar dikenal dengan sebutan Watu Gong ini, menimbulkan perdebatan panjang mengenai tafsiran kata 'dahaṇa', apakah merujuk pada Dahaṇa(Pura) atau bukan?. 

Pada kunjungan saya ke lokasi cungkup bekas berdirinya prasasti Pamotan, saya beruntung bisa berjumpa dengan bapak Warsim, beliau adalah perawat bangunan tersebut. Rumah beliau tepat berada di sampingnya. Di tempat yang sejuk dan rindang itu kami berbincang banyak hal mengenai Prasasti Pamotan. Menurut bapak Warsim, hilangnya prasasti Pamotan sangat disayangkan oleh warga, mereka merasa sangat kehilangan. 

Foto Bersama Bapak Warsim di Depan Cungkup Bekas Prasasti Pamotan 

Menurut beliau, prasasti Pamotan adalah peninggalan leluhur yang sangat mereka hormati dan mereka keramatkan. Dalam tradisi Desa Pamotan, seperti acara nyadran atau sedekah bumi, lokasi pelaksanaannya secara turun temurun selalu terpusat disana. Bahkan, apabila ada warga desa Pamotan yang mempunyai hajat atau mau ada acara hajatan, mereka mempunyai tradisi untuk mengirim Tumpeng dan berdoa disana. 

Bapak Warsim juga bercerita bahwa dirinya sejak kecil sudah akrab dengan Prasasti Pamotan, sehingga beliau sangat hafal betul dengan kondisi fisik prasasti tersebut. Beliau juga mengatakan kesiapannya menjadi saksi untuk memastikan apakah sebuah prasasti itu benar-benar asli prasasti Pamotan atau bukan, jikalau prasasti tersebut ditemukan.

Foto Prasasti Pamotan 

Bapak paruh baya itu juga bercerita, bahwa seluruh pelaku yang terlibat dalam pencurian prasasti batu tersebut semuanya meninggal dunia. Seketika itu saya langsung teringat akan kutukan/Sapatha yang biasanya terdapat pada bagian bawah prasasti yang berisi tentang kutukan sumpah serapah bagi siapa pun yang berani mencabut prasasti dari tempatnya. Ya, Percaya nggak percaya.

Bapak Warsim juga menuturkan bahwasanya, dirinya dan juga warga desa Pamotan masih mempercayai jika energi atau yoni dari Prasasti itu masih ada dan masih tertinggal di dalam cungkup tersebut. Kendati secara fisik prasasti batunya sudah tidak ada lagi, tetapi energi atau yoninya masih tetap ada.

Foto di Depan Cungkup Bekas Prasasti Pamotan 

Itulah alasannya mengapa sampai saat ini tempat tersebut masih dikeramatkan. Bapak Warsim juga berpesan jika sewaktu-waktu saya ingin berkunjung ke sana lagi, beliau berharap untuk dikabari terlebih dahulu, agar beliau bisa menemani. Bapak yang sangat ramah itu merasa senang jika bisa menemani, dan beliau menekankan bahwasanya beliau ikhlas dan tidak mengharapkan imbalan apapun. 

Jumat, 29 Desember 2017

EMPAT LINGGA DI GUNUNG PUCANGAN

Gunung Pucangan secara administrasi masuk wilayah Desa Cupak, Kecamatan Ngusikan, Kabupaten Jombang. Gunung yang terkenal akan cerita mistisnya ini diduga sebagai tempat asal Prasasti Pucangan yang sekarang kabarnya ditelantarkan di gudang Museum di Calcutta, India. Di gunung keramat ini kita bisa menjumpai beberapa Sendang atau kolam pemandian, seperti Sendang Dermo dan Sendang Widodaren. Pada hari tertentu (Malam Jumat Legi) gunung ini akan ramai dikunjungi oleh warga yang mempunyai hajat untuk meminta berkah. 

Lingga yang Posisinya Berada di Depan Mushola dan di Bawah Pohon Rindang

Di gunung Pucangan kita juga bisa menjumpai beberapa makam kuno, seperti makam Dewi Kili Suci dan beberapa makam kuno lainnya yang beberapa diantaranya masih berkijingkan tatanan bata kuno dan ada juga beberapa makam kuno yang sudah berkijing keramik dan bercungkup permanen (Bangunan Baru/Baru Dipugar). Apakah makam-makam kuno tadi memang benar-benar makam atau bukan?, “jangan-jangan?”. Sebaran bata kuno di gunung Pucangan memang lumayan banyak, bahkan anak tangga di gunung Pucangan juga terbuat dari tatanan bata kuno. Jadi, patut diduga jika sebaran bata kuno tersebut adalah bekas reruntuhan bangunan. 

Selama melakukan penelusuran di gunung Pucangan, saya menemukan ada total empat Lingga di gunung ini. Dua diantaranya masih dalam kondisi bagus, berukuran besar, berdiri berdampingan, dan dijadikan nisan dua makam (dicat warna putih) yang berada di dalam cungkup makam Dewi Kili Suci. Entah kedua Lingga yang berdampingan tersebut masih in-situ atau sudah tidak lagi?.

Lingga Bercat Putih yang Dijadikan Nisan Makam yang Berada di Dalam Cungkup Makam Dewi Kili Suci

Sedangkan untuk dua Lingga lainnya, yang satu posisinya berada di depan Mushola di bawah pohon rindang dan yang satunya lagi berada di samping tiga makam kuno yang sekarang sudah dikelilingi pagar tembok, berlantai dan berkijing keramik, serta diberi atap yang menyerupai rumah gadang. Bangunan tersebut tergolong masih baru, karena waktu saya mengunjungi gunung ini tahun 2016, bangunan itu masih belum ada dan dulu ketiga makam panjang tersebut, kijingnya masih berupa tatanan bata kuno. Kedua Lingga tadi diperkirakan sudah tidak in-situ lagi. Jadi, jumlah total Lingga yang berada di Gunung Pucangan semuanya berjumlah empat Lingga dengan ukuran yang hampir sama besar. 

Kamis, 28 Desember 2017

PRASASTI SENDANG MADE

Prasasti Sendang Made disimpan di dalam salah satu bilik di pinggir sendang yang ada di komplek Sendang Made. Sendang Made sendiri secara administrasi masuk wilayah Desa Made, Kecamatan Kudu, Kabupaten Jombang. Di dalam bilik yang pintunya selalu tertutup dan digembok ini juga tersimpan fragmen arca, fragmen terakota, panel relief, dan gentong. Untuk bisa memasukinya dan melihat benda-benda tersebut, kita harus izin terlebih dahulu ke Jupelnya, yakni bapak Supono atau yang akrab disapa Mbah No. Alhamdulillah.. Saya berkesempatan memasuki bilik tersebut untuk yang kedua kalinya dengan didampingi Mbah No. 

Memasuki Bilik Tempat Menyimpan Prasasti, Fragmen Arca, Fragmen Terakota, Panel Relief, dan Gentong, Dengan Didampingi Mbah No

Prasasti Sendang Made ditulis dengan menggunakan aksara Kwadrat yang lazim digunakan pada era Airlangga. Tapi anehnya, diatas prasasti terdapat batu angka tahun era Majapahit. Angka tahun tersebut terbaca 1363 Çaka/1441 M, masa pemerintahan Bhra Prabhu Stri Dewi Suhita, raja Majapahit ke-8. Sedangkan aksara Kwadrat di prasasti terbaca (mohon maaf kalau salah dan mohon koreksinya):

[tuk = menari] 
[iŋ / ing = di] 
[wasanta = musim semi (bunga)] 
[yage..? = ?????] 
[paraṇdhi = dermawan/murah hati] 

Prasasti Sendang Made yang Ditulis Dengan Menggunakan Aksara Kwadrat, dan Diatasnya Terdapat Batu Angka Tahun Era Majapahit 

"Menari di musim semi". Pertanyaannya adalah apakah potongan isi prasasti tersebut ada kaitannya dengan legenda penyamaran Airlangga sebagai pengamen?. Hingga akhirnya lahir upacara adat 'kungkum' di Sendang Made yang sampai saat ini masih dilestarikan. Memang, prasasti ini menjadi petunjuk penting tentang keterkaitan antara Sendang Made dengan Raja Airlangga.

Rabu, 27 Desember 2017

SITUS SENDANG MADE

Sendang Made terletak di kaki Gunung Pucangan dan secara administrasi masuk wilayah Desa Made, Kecamatan Kudu, Kabupaten Jombang. Di Sendang Made kita bisa menjumpai beberapa sendang atau kolam pemandian, seperti Sendang Drajat, Sendang Pengilon, dan Sendang Paomben. Menurut legenda, saat berada disekitar Kapucangan, Airlangga sempat singgah di Sendang Made. Setelah mandi di sendang tersebut, Airlangga yang masih menyamar sebagai pengamen menjadi semakin laris. Dari legenda inilah lahir upacara adat 'Kungkum' yang hingga kini masih dilestarikan. Upacara adat tersebut biasanya dilakukan oleh para sinden agar karirnya semakin laris dengan berendam di dalam salah satu sendang yang ada di komplek Sendang Made, yakni Sendang Drajat.

Situs Sendang Made

Menurut Jupel Sendang Made, bapak Supono atau yang akrab disapa Mbah No, ritual 'Kungkum' atau mandi di Sendang Drajat bukan hanya dilakukan oleh para sinden, ada juga penyanyi cafe atau karaoke yang melakukan ritual tersebut. Bahkan, masyarakat umum yang mempunyai hajat juga melakukannya. Menurut Mbah No, untuk melakukan ritual mandi di Sendang Drajat harus izin kepadanya terlebih dahulu. Dan, bagi yang mau mandi disarankan untuk membawa bunga tujuh rupa. Aturan lainnya yang harus ditaati, yakni tidak diperbolehkan mandi dengan menggunakan sabun maupun sampo. Dan, bagi wanita yang sedang datang bulan dilarang keras untuk mandi di dalam Sendang. 

Sendang Drajat 

Di Sendang Made kita juga bisa menjumpai beberapa benda cagar budaya, seperti prasasti, fragmen arca, panel relief, dan gentong. Benda-benda tersebut diamankan di dalam salah satu bilik di pinggir sendang yang pintunya selalu tertutup dan digembok.

Benda-benda Cagar Budaya yang Disimpan di Dalam Bilik

Selasa, 26 Desember 2017

PRASASTI MUNGGUT/SUMBER GURIT 944 ÇAKA/1022 M

Prasasti Munggut/Sumber Gurit secara administratif terletak di Dusun Sumber Gurit, Desa Katemas, Kecamatan Kudu, Kabupaten Jombang. Prasasti yang terbuat dari batu andesit dengan aksara Kawi dan bahasa Jawa Kuna ini diperkirakan masih in-situ. Kondisi prasasti dalam keadaan baik, utuh dan terawat, diberi cungkup, berlantai keramik dan dikelilingi pagar tembok. Aksaranya pun masih terlihat jelas dan bisa dibaca. Prasasti peninggalan Raja Airlangga ini letaknya persis di pekarangan/halaman rumah warga (berdiri di depan rumah warga). Menurut keterangan Jupelnya, bapak Badri, rumah warga tersebut tidak lain adalah rumah milik bapaknya si Jupel sendiri. 

Foto Bersama Prasasti Munggut/Sumber Gurit 

Prasasti yang berbentuk blok dengan puncak kurawal ini semua sisinya terpahat/terukir aksara, baik sisi depan (recto), sisi belakang (verso), maupun kedua sisi lainnya/sisi samping (margin). Prasasti Munggut dikeluarkan oleh Raja Airlangga dengan gelar abhiseka Çri Mahãrãja Rakai Halu Çri Lokeçwara Dharmmawaṅça Airlaṅga Anãntawikramottuṅgadewa, dengan Çrĩ Sanggrãmawijaya Dharmmaprasãdottunggadewa sebagai Rakryãn Mahãmantrĩ i Hino-nya. Isi prasasti Munggut, selain tentang penetapan sima/perdikan bagi penduduk Desa Munggut (sekarang masuk dalam wilayah Dusun Sumber Gurit), juga menyebut Keraton Airlangga di Wwatan Mas. Prasasti yang menyebut Keraton Wwatan Mas selain Prasasti Munggut, yakni Prasasti Cane (943 Çaka/1021 M) dan Prasasti Terep (954 Çaka/1032 M).

PRASASTI KUSAMBYAN/GROGOL

Prasasti Kusambyan/Grogol secara administrasi terletak di Dusun Grogol, Desa Katemas, Kecamatan Kudu, Kabupaten Jombang. Prasasti yang terbuat dari batu andesit dengan aksara Kawi dan bahasa Jawa Kuna ini kondisinya sudah tidak utuh lagi, karena bagian atasnya pecah menjadi 9 bagian. Hal ini mengakibatkan angka tahun prasasti tidak bisa dibaca, karena bagian atas prasasti sudah rusak. Pada bagian atas prasasti inilah biasanya penanggalan ditulis, akan tetapi berdasarkan paleografi-nya diketahui berasal dari masa Raja Airlangga (1019-1042 M).

Kondisi Prasasti Kusambyan/Grogol yang Bagian Atasnya Pecah
Foto Bersama Prasasti Kusambyan/Grogol 

Prasasti yang diperkirakan masih in-situ ini menyebut dua lokasi penting, yang pertama yaitu keraton Maḍaṇḍĕr: "..ri kāla nikanaŋ śatru si cbek °an tamolaḥ madwal makadatwan °i madanḍĕr.." , "..pada saat musuh si Cbek terus menerus merusak keraton di Madaṇḍĕr..". Dan, yang kedua yaitu desa Kusambyan yang dikukuhkan menjadi daerah perdikan: "..simā ri pagĕḥ makarasa sumima thāninya °i kusambyan.." , "..daerah perdikan yang ditetapkan [dan] dinikmati [tersebut adalah] daerah perdikan di Desa Kusambyan..". 

FOLKLOR CANE BUKTI AIRLANGGA DAN GARUḌAMUKHA BERJAYA DI BUMI JANGGALA

Cerita tutur merupakan salah satu bentuk kearifan lokal. Tradisi menuturkan peristiwa sejarah sudah lama diperkenalkan oleh leluhur kita seb...